Share  

KAKAO

Askindo: Produksi kakao 2017 hanya 300 ribu ton

Oleh : Lidya Yuniartha
Rabu, 11 Oktober 2017
19:40 WIB
Askindo: Produksi kakao 2017 hanya 300 ribu ton

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhelfi Sikumbang memperkirakan produksi kakao Indonesia tahun ini akan mengalami penurunan menjadi 300.000 ton. Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya dimana produksi kakao pada tahun 2016 berkisar 345.000 ton.

Zulhelfi berpendapat, penurunan ini diakibatkan tidak adanya program yang ditetapkan pemerintah khusus untuk kakao.

"Harusnya ada program pemerintah untuk replanting, tetapi sampai hari belum ada sama sekali. Jangankan replanting, program untuk perkebunan saja tidak ada. Pemerintah hanya fokus meningkatkan produksi padi, jagung, dan kedelai. Karena itu, kami melihat produksi untuk kakao tidak akan bergerak naik," jelas Zulhelfi kepada KONTAN, Rabu (10/10).

Sementara, dia mengatakan, petani akan enggan melakukan replanting sendiri karena merasa produktivitas yang menurun, harga yang tak kunjung membaik, serta hama yang terus menyerang. Inilah yang membuat petani kakao banyak beralih menanam tanaman lain.

Menueurt Zulhelfi, saat ini produktivitas kakao hanya berkisat 400 kg per ha dan harga di tingkat petani juga hanya berkisar Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kg. Luas areal tanam kakao pun menurun. Saat ini dia memprediksi luas areal tanaman kakao hanya berkisar 1,1 juta hektare, padahal hingga 2011, luas areal tanam kakao masih berkisar 1,6 juta ha.

Zulhelfi mengatakan pemerintah memang pernah melajukan Gerakan Nasional (Gernas) untuk kakao pada 2009 hingga 2012. Sayangnya, mereka hanya membagikan bibit dan pupuk tanpa disertai adanya tenaga penyuluhan. Padahal menurutnya petani sangat membutuhkan penyuluh untuk mengetahui bagaimana cara merawat tanaman kakao dengan benar.

"Di Gernas itu, program utama yang dilakukan baru bagi pupuk dan bibit, padahal hal pertama yang seharusnya ada adalah menyediakan penyuluh di tingkat petani. Setelah petani mau merawat dan mengelola tanaman kakao dengan baik, barulah dilakukan replanting. Yang asa, mereka melakukan replanting tanpa tahu bagaimana cara yang tepat karena itu produksinya tidak akan bagus juga," ujar Zulhelfi.

Dia juga berpendapat, sebenarnya replanting tidak membutuhkan biaya yang besar. Hanya saja, petani enggan melakukannya karena pendapatan yang dia dapatkan tidak sepadan. Sementara, saat replanting dilakukan, petani harus menunggu sekitar 3 tahun supaya panen dapat dilakukan.

"Sebenarnya harga bibit tidak mahal hanya saja, apabila 1 kebun dengan luas 1 hektare membutuhkan 1000 bibit, sementara harga bibit Rp 6000 satuannya, itu kan sudah 6 juta, sementara pendapatan dia tidak banyak. Padahal kalau replanting petani tidak dapat income karena butuh 3 tahun untuk berbuah lagi. jadi simalakama jadinya," jelas Zulhelfi.

Menurutnya dengan pemerintah menyiapkan bahan tanaman dan ada penyuluh, maka petani akan melakukan replanting dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan petani. Petani dapat melakukan replanting di sebagian lahan terlebih dahulu atau melakukan teknik sambung samping, atau teknik replanting tanpa harus memotong pohon kakao.

Tahun ini, karena jumlah produksi kakao yang terus menurun, Zulhelfi memprediksi impor kakao oleh Indonesia akan mencapai 175.000 ton. Menurutnya, jumlah Impor kakao yang dilakukan Indonesia hingga Juli lalu sudah mencapai 102.000 ton.

Editor : Yudho Winarto