Share  

ANGGARAN

Bonus tidak pasti, jadi bukan buat yang pasti

Oleh : Francisca Bertha Vistika
Senin, 24 Juli 2017
16:56 WIB
Bonus tidak pasti, jadi bukan buat yang pasti

Galau. Begitu perasaan yang sempat melanda Setiawan pertengahan Juni lalu.

Bagaimana tidak kacau enggak keruan? Tinggal sepekan lagi dari jadwal pencarian bonus yang biasanya akhir Juni, perusahaan tempatnya bekerja mengumumkan pembagian upah ekstra itu diundur hingga pengujung Juli.

Padahal, pria 40 tahun ini mengandalkan bonus tengah tahun tersebut untuk membayar uang kegiatan sekolah dan buku pelajaran anak-anaknya di tahun ajaran baru, 2017–2018. Maklum, nilai uang kegiatan sekolah dan buku pelajaran itu mencapai jutaan rupiah.

Dan, Setiawan mengungkapkan, yang jauh-jauh hari menjadikan bonus untuk membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran anyar –yang populer dengan sebutan uang pendaftaran ulang– bukan hanya dirinya. "Beberapa teman kantor saya juga mengandalkan bonus untuk bayar uang daftar ulang sekolah anak," bebernya.

Tentu, pembagian bonus yang mundur bahkan batal sama sekali bukan jadi masalah besar jika karyawan seperti Setiawan memiliki dana darurat. Kalau tidak punya, jelas menjadi problem gede yang bisa bikin pikiran kacau tidak karuan.

Soalnya, ya, itu tadi, penggunaan bonus untuk biaya pendidikan anak di tahun ajaran baru. Kalau belum menyetorkan uang bayaran tersebut hingga hari pertama masuk sekolah, ada lembaga pendidikan yang memberikan sanksi. Misalnya, anak tidak boleh mengikuti pelajaran di hari pertama sekolah.

Untuk itu, Prita H. Ghozie, Chief Financial Planner ZAP Finance, menegaskan, jangan sekali-kali mengandalkan bonus untuk membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran yang baru. Sekalipun, pos anggaran itu bukan masuk pengeluaran rutin bulanan seperti uang sumbangan penyelenggaran pendidikan (SPP).

Meski begitu, uang pendaftaran ulang sekolah sifatnya hampir pasti dan wajib, terutama di sekolah-sekolah swasta. Sementara bonus belum tentu Anda terima, meskipun di tahun-tahun sebelumnya perusahaan rutin membagikan.

"Jangan andalkan bonus untuk pembayaran yang sifatnya hampir pasti dan wajib seperti daftar ulang," tegas Prita.

Selain biaya pendidikan anak, Prita menambahkan, tujuan keuangan yang tidak boleh mengandalkan bonus adalah dana kesehatan.  "Sebab, jika pembagian bonus mundur, batal, atau jumlah berkurang, itu bisa menyebabkan tujuan keuangan tidak terpenuhi," kata dia.

Pakai dana darurat

Memang, Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, tidak ada sama sekali larangan menggunakan bonus untuk membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran baru. Anda tentu bebas memakai bonus untuk kebutuhan apa saja.

"Namun perlu diperhatikan, biasanya besaran bonus yang terbatas sering tidak mencukupi untuk kebutuhan jangka panjang. Misalnya, pendidikan anak," ujarnya.

Itulah mengapa, Anda harus mempersiapkan jauh-jauh hari biaya pendidikan anak, termasuk uang pendaftaran ulang sekolah yang setahun sekali. Kalau dana yang Anda kumpulkan masih belum mencukupi juga untuk membiayai kebutuhan itu, baru kekurangannya boleh menggunakan bonus.

"Tujuan keuangan jangka panjang bersifat pasti sedang sifat bonus tidak pasti juga tidak jelas jumlahnya," ungkap Eko.

Cuma, bila sudah terlanjur mengandalkan bonus untuk tujuan keuangan yang bersifat hampir pasti dan wajib, sementara pembagiannya mendadak ditunda, Prita menyarankan, untuk menggunakan dana darurat. Tapi, begitu bonus turun, dananya langsung dimasukkan ke pos dana darurat.

Sebab, pos anggaran ini sesuai namanya untuk kebutuhan yang tidak disangka-sangka, yang memerlukan penanggulangan segera. Kebutuhan mendesak ini umumnya bersifat musibah, seperti sakit, kecelakaan, serta kerusakan pada rumah.

"Bila tanpa ada dana tunai hidup seseorang menjadi berubah dan tidak berjalan dengan baik, itu adalah kebutuhan mendesak," jelas Prita.

Memang, pembayaran uang pendaftaran ulang sekolah yang tidak bisa dipenuhi gara-gara bonus tertunda jadi kebutuhan mendesak. Tapi sejatinya, biaya pendidikan di tahun ajaran baru ini bukanlah keperluan yang tidak disangka-sangka.

Bagaimana kalau tidak punya dana darurat sama sekali? Eko bilang, ya, mau tidak mau utang menjadi jalan penyelesaian.

Cuma sebaiknya berutang ke kerabat dekat sehingga tidak terkena bunga. "Tentu dengan komitmen, akan melunasi semua pinjaman saat bonus akhirnya datang," ujar dia.

Keperluan konsumtif

Nah, sesuai sifatnya yang tidak pasti dan jumlahnya enggak selalu tetap, Eko menuturkan, bonus sebaiknya Anda gunakan untuk tujuan keuangan jangka pendek, kebutuhan yang mendadak, atau keperluan konsumtif. Contohnya, untuk membeli aset dan biaya pelesiran.

Tetapi, ada baiknya tidak menghabiskan seluruh bonus yang Anda terima. Anda harus menyisihkan sebagian untuk tambahan investasi. "Sisihkan minimal 30% untuk tambahan investasi," imbuh Eko.

Sedang, menurut Prita, pemanfaatan bonus sebaiknya buat pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan gaya hidup, seperti dana liburan dan pembelian barang pribadi. Soalnya, "Pengeluaran tersebut, kan, sifatnya tidak wajib, jadi bisa dilaksanakan bila mendapat bonus," jelas dia.

Hanya, jika Anda belum berkeluarga, Prita memberi saran, sebaiknya bonus dipakai untuk tujuan keuangan yang lebih jangka panjang. Sebut saja, uang muka alias down payment (DP) pembelian rumah tinggal dengan cara kredit ke bank, kemudian dana pensiun.

Prita membagi tip, sebaiknya alokasi bonus dibagi berdasarkan prioritas.

Pertama, untuk membayar zakat wajib. Anda pun bisa menambah sedekah, bantuan sosial, ataupun membayar zakat harta yang selama ini tertunda dengan bonus.

Kedua, melunasi seluruh atau sebagian utang konsumtif. Dengan begitu, Anda bisa terbebas atau mengurangi beban bunga yang cukup mencekik.

Ketiga, mengisi pos anggaran dana darurat. Dalam kehidupan rumahtangga, mempersiapkan dana untuk kebutuhan tak terduga sangat penting.

Keempat, untuk dana pensiun. Dalam jangka panjang, risiko terberat yang sangat ingin Anda hindari adalah tidak mampu pensiun. Tanpa punya kesadaran berinvestasi sejak dini, hampir mustahil Anda dan pasangan bisa hidup nyaman tanpa beban di masa pensiun.

Kelima, membiayai gaya hidup, seperti liburan ke luar negeri dan membeli ponsel cerdas atau mobil.

Jadi, bagi yang masih mengandalkan bonus untuk mendanai kebutuhan-kebutuhan wajib semacam pendidikan anak di tahun ajaran baru, yuk, atur lagi keuangan keluarga Anda

Editor : S.S. Kurniawan