Share  

REKOMENDASI SAHAM

Ciputra berburu dari proyek baru

Oleh : RR Putri Werdiningsih
Rabu, 13 September 2017
10:32 WIB
Ciputra berburu dari proyek baru

KONTAN.CO.ID - PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memanfaatkan momentum menguncupnya bunga acuan Bank Indonesia. Emiten Grup Ciputra ini baru saja meluncurkan kluster hunian berteknologi Northwest Hill di CitraLand Surabaya, kemarin (12/9). 

Melalui proyek seluas 150 hektare (ha) ini, CTRA berharap bisa mencapai target bisnis akhir tahun ini. Rencananya, masih ada beberapa proyek lagi yang akan diluncurkan hingga akhir tahun nanti.

Direktur CTRA Harun Hajadi menyebutkan, dalam penjualan kali ini CTRA berhasil mencatatkan rekor baru. Dalam waktu enam jam, CTRA mengklaim berhasil menjual 680 unit, dengan nilai transaksi lebih dari Rp 1,11 triliun. Harga rata-rata setiap unit berkisar Rp 1,6 miliar. "Tahun ini launching Northwest Hill menjadi rekor baru untuk CTRA," ungkap Harun kepada Kontan, Selasa (12/9).

Dengan penjualan itu, artinya CTRA mendapatkan tambahan perolehan pendapatan pra penjualan alias marketing sales. Jika pada akhir Agustus lalu, CTRA baru mengantongi marketing sales senilai Rp 3,85 triliun, maka saat ini pencapaiannya menanjak menjadi Rp 4,95 triliun. Sepanjang 2017, manajemen mengharapkan pencapaian pra penjualan bisa mencapai Rp 8,5 triliun.

Setelah Northwest Hill, CTRA berencana meluncurkan sederet proyek lain, seperti Sunset Cove 8 dan Treasure Island di CitraLand City Losari Makassar, The Orchard di CitraGarden Sidoarjo, Cluster New York di CitraHarmoni Sidoarjo, Beverly Hills di CitraLand Bagya City Medan, dan Livistona di CitraLand Cibubur. Sebelumnya CTRA juga telah merilis proyek CitraLand Cibubur dan CitraLand Tallasa City Makasar.

Analis Phillip Sekuritas Indonesia Yehuda Anthony Harahap berpendapat, agak sulit bagi CTRA untuk bisa mencapai target marketing sales dalam tempo empat bulan. Berdasarkan kalkulasi Yehuda, meski dengan mengandalkan proyek baru, CTRA hanya mampu meraih pendapatan pra penjualan berkisar Rp 7,8 triliun hingga Rp 8 triliun. "Biasanya memang Ciputra ngebut di akhir-akhir. Tetapi kelihatannya masih agak sulit," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.

Kini, pertaruhannya hanya tinggal melihat bagaimana kemampuan tenaga pemasaran Grup Ciputra dalam memasarkan produknya. Menurut Yehuda, penjualan proyek mixed-use masih memiliki peluang yang bagus. Jikapun harganya lebih menyasar kalangan menengah atas, pasarnya masih tetap ada.

Pelonggaran aturan

Terkait rencana penerapan kebijakan loan to value (LTV) berdasarkan wilayah (spasial), kata Yehuda, ini bisa menjadi sentimen positif bagi kinerja pengembang properti. Jika ternyata daerah yang ditetapkan sesuai dengan keberadaan proyek CTRA, pasti kinerjanya berpotensi meningkat. 

Sejauh ini 46% marketing sales disumbang oleh proyek di Jabodetabek dan Surabaya, 20% dari kota di Jawa Tengah dan 8% dari wilayah Sumatra. "Cuma efek LTV spasial kemungkinan baru bisa dirasakan pada tahun depan," tutur dia.

Yehuda memandang, penurunan bunga acuan dan rencana penerapan LTV spasial hanya akan memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga saham emiten properti. Untuk mempengaruhi kinerja perusahaan, setidaknya baru akan terasa pada jangka menengah atau pertengahan 2018 nanti.

Pandangan serupa juga diungkapkan analis Megacapital Sekuritas Adrian M. Priyatna. Ia melihat pengaruh kelonggaran kebijakan bunga yang akan diberikan oleh Bank Indonesia (BI) membutuhkan waktu. 

Menurut Adrian, kemungkinan efek LTV spasial dan penurunan suku bunga acuan BI baru terasa dalam setahun ke depan. "Tahun ini mungkin yang terasa pelonggaran LTV yang diterapkan di kuartal III tahun lalu," terang dia.

Meski di semester pertama pertumbuhan CTRA relatif lambat, Adrian masih optimistis emiten ini mampu mengejarnya pada semester kedua. Di tengah daya beli masyarakat yang mulai tumbuh, peluncuran proyek baru di sisa tahun ini akan membuka peluang positif bagi CTRA.

Selain peluang perbaikan pendapatan pra penjualan, Andrian melihat kinerja CTRA cukup terbantu dari kontribusi pendapatan berulang atau recurring income. Selama semester pertama tahun ini, pendapatan berulang CTRA tumbuh 6,30% year-on-year (yoy) menjadi Rp 812,79 miliar. Peningkatan pendapatan berulang bisa menahan laju penurunan pendapatan konsolidasi CTRA.

Adrian merekomendasikan buy CTRA dengan target Rp 1.580 per saham. Yehuda merekomendasikan buy dengan target Rp 1.480 per saham. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Akhmad Nurcahyadi juga merekomendasikan buy dengan target Rp 1.580 per saham. Harga saham CTRA kemarin turun 0,43% menjadi Rp 1.155 saham.

Editor : Wahyu Rahmawati