Share  

JASA KURIR DAN LOGISTIK

Ekonomi lambat, ekspansi pergudangan berlanjut

Oleh : Dina Mirayanti Hutauruk
Minggu, 13 Agustus 2017
17:13 WIB
Ekonomi lambat, ekspansi pergudangan berlanjut

KONTAN.CO.ID - Sejumlah pengembang terus melakukan ekspansi proyek pergudangan meskipun ekonomi masih lesu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi paruh pertama 2017 hanya 5,01 %, melambat dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 5,18%.

Pengembang berani melakukan ekpansi karena mereka melihat prospek pergudangan masih akan cerah. Ini terlihat dari proyek-proyek eksisting yang terserap cukup baik dan permintaan masih terus berdatangan.

PT Jababeka Tbk (KIJA) misalnya akan berencana meluncurkan pergudangan Bizpark tahap II pada Agustus 2017 sebanyak 20 unit. Pasalnya, Bizpark Jababeka tahap I yang dirilis sejak kuartal III tahun lalu sebanyak 24 unit sudah hampir terjual seluruhnya.

"Tahap I itu diterima cukup bagus oleh market dan permintaan juga masih besar. Konsep yang kami kembangkan ini memang masih diminati oleh UKM karena bisa dijadikan sekaligus sebagai hunian," kata Sutedja Darmono, Direktur Jababeka pada KONTAN, Sabtu (12/8).

Pergudangan ini akan diluncurkan dengan tipe yang kurang lebih sama dengan tahap I. Namun harganya akan naik sekitar 10%-15%. Bizpark dibangun di atas lahan 1 ha dengan harga Rp 1,9 miliar per unit. Satu unitnya memiliki luas bangunan 153 m2 dan luas lahan mulai dari 180 m2.

Menurut Sutedja, permintaaan pergudangan di kawasan Jababeka masih cukup bagus karena kawasan timur Jakarta semakin diminati investor di tengah maraknya pembangunan infrastruktur transportasi di kawasan tersebut.

Jababeka juga tengah mempersiapkan pengembangan pergudangan dengan konsep baru. Emiten dengan kode KIJA ini akan membangun gudang dengan mengikuti konsep logistik warehouse, pergudangan konsep bertingkat dan juga konsep pergudangan Jepang.

Namun, Sutedja belum bersedia merinci rencana tersebut lantaran masih dalam prospek mengkaji pasar dan konsep. "Permintaan masih sangat bagus terutama dari investor Jepang yang eksisting," tambah Sutedja.

PT Intiland Development Tbk (DILD) juga tengah mempersiapkan pengembangan pergudangan tahap II di Aeropolis TechnoPark Cengkareng. Sebab hingga semester I, pengembangan tahap I sudah terjual 85%.

Intiland memiliki rencana untuk pengembangan pergudangan 440 unit di lahan seluas 35 ha. Sejak tahun 2015 telah diluncurkan tahap I di lahan seluas 8 ha yang terdiri dari 60 unit gudang dengan tipe 9 x 30 dan 15 x 36 serta 70 unit small warehouse dengan tipe 6x16 dan 8x16. Pada awal peluncuran, harga gudang tersebut sekitar Rp 11 juta per m2 dan saat ini harga jualnya naik sekitar 9%-12%

Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland mengatakan, pengembangan tahap II ini tersebut masih belum bisa ditentukan waktunya. "Saat ini, kami fokuskan dulu untuk pengembangan tahap I," ujarnya.

Meskipun Intiland belum menetapkan waktu peluncuran tahap kedua, perusahaan ini masih optimistis prospek pergudangan di wilayah Cengkareng masih bagus.

Theresia bilang, pergudangan memiliki potensi yang baik terutama untuk lokasi yang dekat dengan bandara internasional maupun di kawasan Industri. Kebutuhan akan lokasi penyimpanan kargo yang melonjak semenjak booming e-commerce di Indonesia turut mendorong penjualan pergudangan seperti TechnoPark.

Tak ketingggalan, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga terus mengembangkan pergudangan lantaran adanya permintaan. Perusahaan ini sedang membangun dua gudang sewa baru di Makassar dan Balikpapan dengan kapasitas masing-masing 10.000 meter persegi (m2).

Gudang ini dibangun lewat anak usahanya PT SLP Surya Ticon Internusa (SLP). "Gudang tersebut akan beroperasi pada November 2018," ungkap Erlin Budiman, Investor Relations SSIA.

Ekspansi gudang dilakukan setelah dapat permintaan dari tenan yang akan menyewa. Kedua gudang tersebut akan disewa oleh satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang consumer good.

Dengan ekspansi tersebut makan total gudang sewa yang dimiliki SSIA lewat SLP akan meningkat 20.000 m2 tahun ini. SLP ini merupakan perusahaan patungan antara SSIA dengan Mitsui Co Ltd, dan Ticon Industrial Connection Plc.

Saat ini, SLP sudah memiliki sudah memiliki kawasan pergudangan modern dan pabrik siap pakai di Suryacipta Teknopark Karawang seluas 20 ha. Disana terdapat 26 unit gudang sewa dengan luas masing-masing 2. 500 m2- 5. 000 m2 dan pabrik siap pakai dengan kapasitas mencapai 150 ribu m2.

Erlin melihat permintaan gudang masih meningkat. Hanya saja, di saat yang sama supplai juga bertambah banyak sehingga harga rental mengalami penurunan dibaanding tiga tahun lalu. "Namun ke depannya, bisnis ini (gudang) masih punya prospek yang baik," kata Erlin.

Harun Hajadi, Direktur Ciputra Group mengatakan, prospek pergudangan sangat berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi melambat, bisnis pergudangan juga akan mengikuti. "Karena pergudangan ini berhubungan dengan logistik, industri ringan dan penyimpanan barang," kata Harun.

Walaupun begitu, Ciputra juga masih terus melanjutkan penjualan proyek pergudangan Bizpark Bekasi. Perusahaan akan membangun 600 unit gudang di atas lahan 40 ha. Tahap I, sudah dirilis sebanyak 144 unit gudang yang dibanderol dengan harga mulai Rp 2 miliar -Rp 10 miliar sejak 2012.

Untuk menyukseskan pengembangan proyek pergudangan tersebut, Ciputra melalui anak usahanya PT Mitra Makmur Bagya telah menjalin kerjasama dengan Bank Mandiri pada Mei 2017 lalu terkait penyediaan pembiayaan pembelian gudang untuk memudahkan konsumen melakukan pembelian proyek ini.

Editor : Wahyu Rahmawati
    Berita Terkait