Share  

KAKAO

Harga kakao tertolong penguatan dollar AS

Oleh : Lidya Yuniartha
Rabu, 04 Oktober 2017
22:11 WIB
Harga kakao tertolong penguatan dollar AS

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah turut berpengaruh terhadap peningkatan harga kakao di tingkat petani.

Ketua Umum Asosiasi kakao Indonesia (Askindo) Zulhelfi Sikumbang mengatakan, saat ini harga kakao di tingkat petani meningkat menjadi Rp 28.000 per kilogram (kg), dimana pada akhir 2016 sampai juli 2017 harga kakao sempat menurun menjadi Rp 20.000 per kg.

"Dollar semakin kuat tentu akan banyak yang rupiah yang diperoleh petani karena harga kakao berbasiskan harga dollar. Untuk eksportir juga akan menguntungkan. Secara umum ini akan meningkatkan penerimaan petani," jelas Zulhelfi kepada KONTAN, Rabu (4/10).

Meski harga di tingkat petani turut mengalami kenaikan, namun hal ini belum dirasa mampu mendorong petani untuk lebih giat memproduksi kakao. Pasalnya, saat ini banyak petani yang beralih dari petani kakao untuk menanam komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. Terlebih setelah pemerintah menetapkan tarif bea keluar untuk ekspor kakao.

"Semenjak diterapkan bea keluar kakao, tentu petani merasa tidak benar menjual produksinya, jadi belum tentu mereka mau mengurus tanaman kakaonya lagi. Petani adalah seorang pebisnis juga akan menghitung komoditi mana yang menguntungkan dan yang hambatan perdagangannya sedikit atau tidak," tutur Zulhefi.

Memang saat ini tidak ada tarif bea keluar yang ditetapkan mengingat harga yang kakao di pasar dunia sekitar US$ 2.080 per ton. Sementara tarif bea keluar akan ditetapkan apabila harga kakao sudah mencapai US$ 2.500 per ton.

Meski tarif bea keluar ekspor ini sudah tidak terjadi selama kurun waktu enam bulan, tetapi Zulhelfi melihat masih banyak yang enggan mengekspor kakao.

Saat ini produksi kakao juga terus mengalami penurunan. Menurut Zulhelfi produksi tahun ini akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yakni sekitar 300.000 ton. Menurut Zulhelfi, penurunan produksi ini mulai terjadi sejak tahun 2010 karena kebijakan bea keluar ekspor kakao.

Editor : Yudho Winarto