Share  

PORTOFOLIO

Ini hal penting agar cuan dari saham bisa datang

Oleh : Dityasa H Forddanta
Selasa, 29 Agustus 2017
21:10 WIB
Ini hal penting agar cuan dari saham bisa datang

KONTAN.CO.ID - Tidak sedikit investor individu yang berhasil meraup untung dari saham. Beberapa orang sudah membuktikan jika kejelian, kecermatan, dan juga kesabaran bisa mendatangkan cuan dari jual beli saham.

Misal, ada si misterius Setiawan Ichlas yang berpotensi meraup Rp 1 triliun lebih andai ia menjual kepemilikannya atas saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Ada juga nama Benny Tjokro. Ia sangat aktif bermain di saham PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO).

Tak sedikit pula nama petinggi emiten BUMN yang juga masuk ke saham. Ada nama Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Dessy Aryani. M. Choliq, Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) malah lebih aktif lagi mentransaksikan saham.

Untung yang didapat memang berbeda-beda. Tapi, secara umum, apa yang mereka peroleh itu sangat sebanding, terutama jika dilihat dari sisi waktu.

Rata-rata dalam waktu sebulan, untung yang mereka peroleh bahkan jauh melampaui bunga salah satu instrumen investasi, deposito. "Jadi, berapa pun yang didapat dari saham, itu tetap worth it," ujar analis First Asia Capital David Sutyanto kepada KONTAN, Selasa (29/8).

Suku bunga deposito tertinggi bulan ini saja ada di level 5,1%. Itu pun untuk deposito jangka waktu 1 tahun. Jadi, return yang didapat hanya sepersekian persen setiap bulan sesuai dengan dana yang diinvestasikan.

Meski demikian, lanjut David, investasi saham tidak bisa asal membenamkan duit. Sejumlah faktor, terutama soal likuidtas tetap menjadi pertimbangan utama.

Jangan sampai harga sahamnya naik hingga membuat investor berpotensi untung triliunan, tapi potensi itu hilang lantaran untuk menjualnya kembali sulit karena sahamnya tidak likuid. Dengan kata lain, kejelian dalam melihat prospek fundamental emiten juga memegang peranan penting.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Sekuritas menambahkan, kejelian dalam memilah fundamental emiten membuka potensi perolehan keuntungan yang lebih besar. Pada umumnya, fundamental emiten yang baik tercermin dari kinerjanya yang terus meningkat.

Sehingga, hal itu nanti akan terefleksi pada harga sahamnya yang cenderung terus terapresiasi. "Ini mengapa pada umumnya investasi jangka panjang lebih menguntungkan," tambah Norico.

Meski demikian, hal itu kembali pada profil risiko masing-masing. Ada yang memang lebih tertarik investasi jangka panjang, ada juga yang lebih aktif trading jangka pendek. Tentu keuntungan yang didapat seusai dengan risiko tersebut.

David menambahkan, bukan juga berarti yang trading jangka pendek keuntungannya lebih kecil. Namun memang, trading jangka pendek butuh cost yang lebih besar. Bukan hanya secara materi, tapi juga dari segi waktu yang memang butuh waktu khusus mencermati pergerakan harga saham.

Oleh sebab itu, lanjut David, guna memaksimalkan peluang perolehan keuntungan, pembagian portofolio sangat diperlukan. Porsi 70:30 itu sudah terbilang ideal.

"70% dana untuk investasi jangka panjang, 30% lagi untuk jangka pendek," pungkas David.

Editor : Dessy Rosalina