Share  

PORTOFOLIO

Investasi pilihan di era bunga rendah

Oleh : Elisabet Lisa Listiani Putri, Nisa Dwiresya Putri, Riska Rahman, RR Putri Werdiningsih
Jumat, 25 Agustus 2017
12:17 WIB
Investasi pilihan di era bunga rendah

KONTAN.CO.ID - Setelah bunga acuan Bank Indonesia turun menjadi 4,5%, agaknya peta portofolio investasi akan berubah.

"Pasar modal akan lebih aktif," ungkap Hans Kwee, Presiden Komisaris Infinitum Advisory, kepada KONTAN, kemarin.

Pasar saham diyakini menjadi salah satu pilihan terbaik di saat suku bunga acuan landai. Instrumen lainnya adalah obligasi dan reksadana.

Sehari setelah bank sentral memangkas BI 7-day reverse repo rate, pasar saham memang langsung melejit. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada Rabu (23/8) lalu, menyentuh level penutupan tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni di posisi 5.914,02.

Saham di sektor properti dan perbankan layak untuk dipertimbangkan. Tentu ada sentimen positif dari penurunan bunga acuan.

Investasi di sektor riil, dalam hal ini properti, juga bisa terdorong akibat melandainya bunga acuan. Ini akan diikuti oleh penurunan bunga pinjaman, sehingga mendorong pengembang dan konsumen untuk masuk properti.

Investor mungkin bisa mempertimbangkan properti komersial seperti rumah toko (ruko). "Sedangkan properti hunian saat ini sudah terbilang oversupply," ujar Heryanto, Managing Director Gema Mulia, salah satu komunitas saham di Indoensia.

Obligasi menengah

Pelaku pasar juga memperkirakan, pasar obligasi bertenor jangka menengah dan jangka panjang akan membaik. Namun, keadaan ini sulit dinikmati pemegang obligasi bertenor pendek.

Banyak sentimen negatif dalam waktu dekat berpotensi mengguncang harga. "Rencana kenaikan suku bunga The Fed dan ancaman Presiden AS Donald Trump menghentikan pemerintahan bisa mengganggu pasar," kata Desmon Silitonga, Fund Manager Capital Asset Management.

Karena alasan itulah saat ini pasar lebih banyak memindahkan investasinya ke obligasi bertenor menengah 10 tahun dan tenor panjang 15 tahun dan 20 tahun. Sebab, likuiditasnya relatif stabil.

Desmond memperkirakan, selama nilai tukar rupiah masih stabil dan inflasi terkendali, maka obligasi jangka menengah masih menarik.

Bagaimana dengan investasi emas? Hans menilai saat ini bukanlah momentum yang bagus. Sebab, investasi emas menjadi pilihan pas apabila nilai tukar berfluktuasi dan kondisi pasar tidak menentu. Sementara, saat ini pasar domestik dan global masih kondusif.

 

Editor : Dupla Kartini
    Berita Terkait