Share  

BURSA EFEK INDONESIA / BEI

Investor ritel yang panen untung

Oleh : Dityasa H Forddanta
Rabu, 30 Agustus 2017
11:04 WIB
Investor ritel yang panen untung

KONTAN.CO.ID - Untung besar dari berinvestasi saham tak hanya dikantongi oleh investor institusi kakap. Investor individu pun bisa meneguk untung bila masuk dalam waktu yang tepat dan memahami prospek saham yang dipilih.

Para profesional juga turut membenamkan investasi di saham. Dessy Aryani, Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR), tak mau ketinggalan akan manisnya prospek fundamental perusahaan yang dipimpinnya. Ia sempat menambah kepemilikan saham di JSMR.

Berdasarkan laporannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) penambahan saham itu bertujuan untuk investasi. Pada 11 Juli 2017, Dessy membeli total 300.000 saham JSMR. Transaksi dilakukan dua kali.

Sebanyak 220.000 saham dibeli pada level Rp 5.250 per saham, lalu 80.000 saham dibeli di harga Rp 5.225 per saham. Jadi, total dana yang ia gelontorkan untuk investasi di saham JSMR tersebut mencapai Rp 1,57 miliar.

Kemarin, saham JSMR ditutup pada level Rp 5.625 per saham. Jadi, jika berasumsi Dessy menjual kepemilikannya kemarin, ia bakal meraup Rp 1,69 miliar. Dengan kata lain, ada potensi untung sekitar Rp 120 juta hanya dalam waktu sebulan.

Masih hangat pula nama Setiawan Ichlas, sosok misterius yang telah dua kali memborong saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) di pasar negosiasi. Awal bulan ini, Setiawan membeli lagi saham PADI sebanyak 250 juta saham di harga Rp 350 per saham. Lewat transaksi yang terjadi 7 Agustus itu, ia setidaknya merogoh dana Rp 87,5 miliar.

Sebelumnya, ia juga membeli 1,25 miliar saham atau setara 11,05% dari total saham yang dicatatkan PADI. Setiawan merogoh kocek sebanyak Rp 525 miliar untuk kepemilikan saham itu. Sementara, harga saham PADI saat ini berada pada level Rp 1.115 per saham. Jadi, jika seluruh sahamnya dijual kemarin, ia berpotensi meraih keuntungan hingga Rp 1,15 triliun.

Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga menjadi salah satu individu yang berhasil meraup untung dari saham. Bukan hanya aktif bertransaksi saham WSKT, Choliq juga sering memperdagangkan saham anak usahanya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

Tak ketinggalan, Benny Tjokrosaputro yang aktif memperdagangkan saham PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO).

 

Utamakan likuiditas

Untung yang didapat memang berbeda-beda. Tapi, apa yang diperoleh para investor individu ini dianggap sebanding, terutama jika dilihat dari sisi waktu investasinya. Rata-rata dalam waktu sebulan, untung yang diperoleh jauh melampaui bunga deposito. Analis First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, sejumlah faktor, terutama soal likuiditas tetap harus menjadi pertimbangan utama dalam berinvestasi saham.

Karena jika sahamnya tak likuid, investor pun akan sulit menjual kembali. Kejelian dalam melihat prospek fundamental emiten juga menjadi faktor penting.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Sekuritas menambahkan, jika cermat memilih fundamental emiten, ada potensi keuntungan yang lebih besar. Fundamental emiten yang baik tercermin dari kinerjanya yang terus meningkat dan akan mengangkat harga saham itu sendiri. "Ini mengapa pada umumnya investasi jangka panjang lebih menguntungkan," tambah Norico.

David menambahkan, untuk memaksimalkan peluang perolehan keuntungan, pembagian portofolio sangat diperlukan. Misalnya saja, 70% dana untuk investasi jangka panjang dan 30% lagi untuk jangka pendek.

 

Editor : Sanny Cicilia