Share  

MEDIA SOSIAL

Jelang kongres Partai Komunis, WhatssApp diblokir

Selasa, 26 September 2017
14:54 WIB
Jelang kongres Partai Komunis, WhatssApp diblokir

KONTAN.CO.ID - Layanan aplikasi pesan populer, WhatsApp, mengalami masalah serius atas layanannya di China. 

Berdasarkan data Open Observatory of Network Interference (OONI), data kebijakan jaringan menunjukkan provider jasa layanan internet China mulai memblokir akses ke WhatsApp pada Sabtu (23/9) lalu. Sementara, laporan sejumlah warga China di Twitter mengindikasikan bahwa WhatsApp -yang dimiliki oleh Facebook- sulit diakses sejak pekan lalu. 

Pada Selasa (26/9), di China, pengguna melaporkan layanan intermiten pada platform pesan WhatsApp.

Dalam beberapa bulan terakhir, memang terjadi kendala pada layanan WhatsApp di China. Saat dimintai konfirmasinya mengenai hal ini oleh MoneyCNN, WhatsApp menolak berkomentar. 

Upaya terkini pemblokiran layanan WhatsApp ini terjadi saat menjelang berlangsungnya Kongres Nasional 19 Oktober dari Partai Komunis yang berkuasa. Pada pertemuan yang terbilang sensitif dan berlangsung setiap lima tahun sekali ini, pemerintah akan memilih pemimpin dan menentukan prioritas kebijakan.

China memang kerap memperketat pembatasan internetnya secara teratur menjelang pertemuan Partai Komunis.

"Biasanya, menjelang Kongres Partai, kami melihat dilakukannya pemblokiran, penyaringan, dan pembatasan di internet. Hal itulah yang telah kami alami dalam beberapa bulan terakhir," kata Adam Segal, direktur Digital and Cyberspace Policy Program di Dewan Hubungan Luar Negeri.

Pemerintah China mengoperasikan alat penyaring internet yang hebat yang dikenal sebagai Great Firewall. Alat ini digunakan untuk menyensor konten yang dianggap berbahaya.

Namun, lanjut Segal, pemblokiran WhatsApp juga merupakan bagian dari tren yang lebih luas dari pembatasan akses internet di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. Sebelumnya, China telah mengembalikan akses WhatsApp setelah sebelumnya sempat diblokir.

Sementara itu, pengguna WhatsApp yang menggunakan SIM card internasional tidak mengalami kendala yang sama. Pelarangan ini sepertinya hanya spesifik menargetkan pengguna yang berdomisili di China. 

Sebelumnya, layanan sejumlah perusahaan besar AS seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Google, juga tak bisa diakses di China selama bertahun-tahun. Sejumlah warga yang berhasil mengakses layanan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui jaringan pribadi atau dengan alat yang bisa menyamarkan lalu lintas internet untuk menghindari penyensoran. Tapi pemerintah China telah mengalami kegagalan dalam VPN tahun ini.

Menurut Timothy Heath, analis penelitian pertahanan internasional senior di RAND Corporation, pemerintah China tidak menyukai  WhatsApp karena layanan ini menggunakan enkripsi yang kuat.

"Pemerintah ingin memantau komunikasi internet. Oleh karena itu pemerintah China berusaha mengarahkan masyarakatnya untuk menggunakan teknologi yang dapat diakses dan dipantau oleh pemerintah," kata Heath kepada CNN Tech.

Awal bulan ini, WeChat, layanan chat populer dengan ratusan juta pengguna di China, memberi tahu pelanggan tentang kebijakannya untuk mematuhi permintaan informasi pemerintah China.

Editor : Barratut Taqiyyah Rafie
Sumber : money.cnn