Share  

NIKEL

Koreksi harga nikel diprediksi sementara

Oleh : Nathania Pessak
Rabu, 02 Agustus 2017
19:41 WIB
Koreksi harga nikel diprediksi sementara

JAKARTA. Setelah delapan hari reli, harga nikel tergelincir. Namun, koreksi harga komoditas logam industri ini diperkirakan hanya sementara.

Mengutip Bloomberg, Rabu (2/8) pukul 10.23 waktu Shanghai, harga nikel kontrak pengiriman September 2017 di London Metal Exchange (LME) turun 0,7% ke level US$ 10.220 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan, nikel masih naik 1,8%.

Research & Analyst Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menyebutkan, koreksi nikel dipengaruhi beberapa sentimen. Salah satunya, pemerintah Indonesia dikabarkan memberikan relaksasi bagi perusahaan tambang nikel untuk mengekspor lebih banyak lagi.

Sekadar tahu saja, dalam satu tahun ini, PT Ceria Nugraha Indotama mendapat kuota ekspor nikel kadar rendah sebesar 2,3 juta ton dan PT Trimegah Bangun Persada mendapat kuota 1,5 juta ton. "Total ekspor perusahaan yang diberi relaksasi itu sekitar 8,14 juta ton sampai akhir tahun ini," kata Andri, hari ini.

Kemudian, aksi profit taking yang dilakukan oleh investor dan penurunan harga minyak juga menyebabkan harga nikel merosot. "Wajar jika pascareli, harga terkoreksi," ujar Andri

Namun demikian, Andri berpendapat, relaksasi tersebut tidak akan menekan harga nikel untuk waktu yang lama. Menurutnya, aktivitas industri dan konstruksi China yang meningkat mendorong harga nikel naik dalam jangka menengah. Ditambah dengan pertumbuhan ekonomi China kuartal II-2017 yang naik 6,9% dibanding tahun sebelumnya hanya 6,8%.

"Diproyeksi, industri baja China akan meningkatkan permintaan nikel," ujar Andri.

Selain itu, kebijakan Menteri Energi dan Lingkungan Filipina Roy Cimatu terkait pencabutan larangan produksi, belum diterapkan, sehingga harga nikel dalam jangka menengah diprediksi masih positif.

Prediksi Andri, Kamis, nikel masih terkoreksi terbatas di kisaran US$ 10.100-US$ 10.300 per metrik ton. Namun, pekan depan, nikel berpeluang menguat ke area US$ 10.000-US$ 10.400 per metrik ton.

Editor : Dupla Kartini
    Berita Terkait