Share  

BURSA EFEK INDONESIA / BEI

Membuat pintu terbuka bagi UKM ke bursa

Oleh : Dede Suprayitno
Kamis, 03 Agustus 2017
21:58 WIB
Membuat pintu terbuka bagi UKM ke bursa

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya menggenjot Usaha Kecil Menengah (UKM) masuk ke pasar modal. Bahkan muncul slogan: masuk dulu lalu menjadi besar, jangan menunggu besar.

Hal ini membuat otoritas menggenjot upaya meningkatkan minat pelaku usaha. Mulai dari sosialisasi, pelatihan, maupun mengutak-atik regulasi. Intinya, menciptakan bagaimana UKM itu nanti bisa merespon positif dan mau masuk ke pasar modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli lalu bahkan sudah memberikan stimulus dengan adanya Peraturan OJK (POJK) mengenai penawaran umum perusahaan skala kecil dan menengah. Yakni berupa POJK Nomer 53 dan 54/POJK.04 tahun 2017. Namun, sejauh mana regulasi ini direspon?

"Bursa akan melihat ruang untuk mendukung usaha kecil dan menengah, untuk go public," kata Nicky Hogan Direktur Pengembangan Bisnis BEI, dalam diskusi Peningkatan Daya Saing UKM melalui Pasar Modal di Jakarta, Kamis (3/8).

Dalam aturan POJK, ada pembatasan skala perusahaan. Yang disebut perusahaan kecil adalah yang memiliki aset maksimal Rp 50 miliar. Sedangkan perusahaan menengah memiliki aset Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Selain itu, perusahaan kecil memiliki periode laporan keuangan satu tahun atau sejak berdiri, sedangkan perusahaan menengah yakni dua tahun atau sejak berdiri.

Nicky bilang pihaknya tengah menggodok peraturan khusus bursa untuk menyambut POJK tersebut. Intinya memudahkan listing di bursa. Diantara kebijakan tersebut yakni perusahaan kecil dan menengah akan masuk papan akselerasi.

Dia melanjutkan saat ini, papan utama minimal memiliki 1.000 investor, papan pengembangan 500 investor dan papan akselerasi 300 investor. "Direktur independen wajib pada papan utama, sedangkan papan akselerasi bisa tidak wajib," kata Nicky.

Selain itu, pada papan akselerasi nantinya saham beredar hanya ditentukan berdasarkan prosentase. Yakni saham beredar 20% dari total saham tanpa menyebutkan minimal total jumlah saham yang harus beredar.

Untuk itulah bursa tengah mendorong perusahaan start up  bisa masuk program coaching yang dikenal dengan IDX Incubator. Program ini mulai berjalan pada 20 April 2017. Saat ini, BEI sudah menangani 23 perusahaan star tup berbasis teknologi. Rinciannya adalah e-commerce (5 perusahaan), pendidikan (2), tekfin (7), Iot atau internet of things (3), gaya hidup (3), news media (2), dan Saas atau perangkat lunak berbentuk layanan (1).

Namun tidak mudah bagi perusahaan kecil dan menengah melantai di bursa. Salah satu kendala adalah likuiditas calon emiten. Sesudah listing, menjadi penting bagi emiten bisa aktif diperdagangkan. Selain itu, perusahaan sekuritas juga masih menimbang keuntungan saat bermitra dengan perusahaan yang melakukan IPO.

Menurut Nicky akan ada ruang bagi bursa menganjurkan underwriter menjadi liquidity provider. Menurutnya, perusahaan sekuritas masih bisa mengambil keuntungan dari aksi ini. "Bursa tidak bisa sewenang-wenang mewajibkan itu, namun pasti ada keutungan dari insentifnya. Ini untuk mendorong saham lebih likuid," imbuhnya.

Sinergi pasar modal dengan UKM memang menjadi hal yang positif bagi perekonomian nasional. Saat ini, pasar modal memberikan kontribusi dan menjadi alternatif pendanaan bagi korporasi. Kontribusi industri pasar modal ke penerimaan pajak pada 2016 mencapai Rp 110 triliun atau sekitar 9,95% dari realisasi penerimaan pajak tahun 2016 yang mencapai Rp 1.105 triliun.

Adapun kontribusi terbesar berasal dari emiten saham yang mencapai Rp 89,7 triliun. Selain itu, dividen saham berkontribusi sebesar Rp 12,99 triliun.

Dengan masuknya sektor UKM yang menyumbang 60% PDB ke pasar modal, maka bisa memberikan efek bagi perekonomian nasional. "UKM adalah backbone dalam penyediaan lapangan kerja," kata Ekonom, Imam Sugema dalam kesempatan yang sama.

Imam menyatakan, sudah seharusnya pemerintah memiliki regulasi mendukung perusahaan kecil dan menengah. Menurut dia, isu tersebut akan seksi dalam pengembangannya ke depan, khususnya dalam mengandalkan pasar modal. "Ke depan akan lebih banyak perusahaan start up yang membutuhkan capital market untuk perkembangan berikutnya," kata dia.

Selain itu, peran pasar modal bukan hanya menyediakan modal tetapi menyediakan cara untuk memanen hasil start up. "Kalau bicara di equity market maka bicara prospek. Tergantung dari prospek ekspektasinya. Sekelompok owner menjual saham di atas book values berarti memanen lebih awal," lanjutnya.

Kapital market punya mekanisme bukan hanya menyediakan modal tapi juga untuk memanen hasil kerja keras membangun startup. Dia menyatakan menjadi sangat penting bagi manajemen bursa efek untuk menjamin bahwa siapa pun yang masuk ke primary market akan aktif pada secondary market.

"Tanpa itu ukuran perusahaan besar, kecil atau menengah tidak ada prospek untuk perusahaan tersebut. Ini yang menjadi sulit untuk small dan medium bisnis. Perlu di stimulus supaya investor tidak rugi," kata dia.

Editor : Markus Sumartomjon