Share  

RATING INDONESIA

Optimisme ekonomi melaju pasca kado dari S&P

Oleh : Yudho Winarto
Sabtu, 20 Mei 2017
07:41 WIB
Optimisme ekonomi melaju pasca kado dari S&P

JAKARTA. Penantian yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Akhir pekan ini, Jumat (19/5), lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) mengumumkan kenaikan rating surat utang Indonesia menjadi layak investasi (investment grade).

Mengikuti jejak yang telah lebih dahulu disematkan oleh Fitch dan Moodys pada tahun lalu. S&P menaikkan rating menjadi BBB- atau stable outlook, level investment grade terendah, naik dari status BB+. "Ini sudah waktunya," kata Wellian Wiranto, ekonom OCBC Singapura dikutip dari Reuters.

Kabar ini pun langsung disambut gembira oleh pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melonjak 3,2 % menembus rekor 5.825,2, memperpanjang kenaikan tahun ini menjadi hampir 10%. Rupiah menguat sebanyak 0,3 %.

Sebelum panjang lebar, tidak salahnya memahami kembali apa yang dimaksud rating itu? dan apa implikasinya ke investasi?.

Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management dalam catatan rudiyanto.blog.kontan.co.id menuliskan, rating adalah suatu penilaian yang terstandarisasi terhadap kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam membayar utang-utangnya.

Terstandarisasi ini artinya rating suatu perusahaan atau negara dapat dibandingkan dengan perusahaan atau negara yang lain sehingga dapat dibedakan siapa yang mempunyai kemampuan lebih baik, siapa yang kurang

Rating ini diberikan oleh perusahaan pemeringkat. Di Indonesia, ada PT Pefindo, Fitch Rating Indonesia, dan ICRA (Indonesia Credit Rating Agency). Umumnya perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah Indonesia hanya memeringkat perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Sementara, rating terhadap kemampuan membayar utang suatu negara dilakukan oleh perusahaan pemeringkat yang mendapatkan pengakuan internasional. Setidaknya ada tiga pemain besar seperti S&P, Moodys, dan Fitch Rating.

Suatu rating terdiri dari 2 bagian Rating dan Outlook. Rating adalah kemampuan membayar hutang sedangkan Outlook adalah pandangan dari perusahaan pemeringkat apakah Rating akan naik, turun atau tetap pada periode penilaian berikutnya.

Nah, lalu apa investment garde?, kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi hutangnya. Sehingga bagi investor yang mencari investasi yang aman, umumnya mereka memilih rating investment grade.

Non Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang meragukan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang masuk kategori ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan.

Supaya bisa berhasil umumnya mereka memberikan kupon atau imbal hasil yang tinggi sehingga disebut juga dengan high yield bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif.

Selanjutnya, Rudiyanto menjelaskan rating dalam hal ini terhadap Indonesia memiliki implikasi signifikan terhadap investasi. Di antaranya, investor asing akan mengganggap negara Indonesia menjadi negara yang layak investasi (investment grade) dibandingkan negara yang hanya menjadi tujuan spekulasi saja.

Dengan masuknya investasi, maka dana yang masuk tidak melulu hanya dana hot money yang bisa keluar setiap saat akan tetapi bisa jadi merupakan dana investasi yang sifatnya lebih jangka panjang.

Masuknya dana asing diharapkan dapat mendongkrak harga saham dan obligasi sehingga pada akhirnya juga meningkatkan tingkat pengembalian instrumen reksadana.

1 2 3 4 Next
Editor : Yudho Winarto