Share  

Mengukur efektivitas stimulus moneter

Oleh : Riwi Sumantyo
( Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surakarta )
Rabu, 13 September 2017
16:31 WIB
Mengukur efektivitas stimulus moneter

Rencana bank BUMN yang akan menurunkan suku bunga kredit hingga mencapai satu digit pada tahun ini patut diapresiasi. Langkah ini untuk menyikapi kebijakan Bank Indonesia yang telah memotong suku bunga acuan yaitu BI 7-day Reverse Repo Rate (BI-DRR) sebesar 25 bps atau 0,25% dari 4,75% menjadi 4,5%. Seandainya janji bank-bank BUMN yang dipelopori Bank Mandiri tersebut benar, dapat disimpulkan bahwa stimulus moneter yang telah digelontorkan otoritas moneter berjalan efektif. Pengalaman selama ini, dari beberapa kali kebijakan penurunan suku bunga acuan, transmisi ke dunia perbankan berjalan lambat.

Terdapat dua permasalahan pokok yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini yaitu melemahnya daya beli konsumen dan belum optimalnya sektor investasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Dua sektor tersebut merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 55,6% dan 31,4%. Stimulus moneter yang dikeluarkan BI baru-baru ini tujuan utamanya adalah mendorong roda ekonomi bergerak lebih cepat. Sasaran antaranya adalah mendongkrak daya beli masyarakat dan meningkatkan investasi melalui penyaluran kredit oleh dunia perbankan.

Sejak Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II yang hanya sebesar 5,01%, maka sebagian besar pihak termasuk pemerintah dan otoritas moneter mulai khawatir target pertumbuhan ekonomi yang tercantum dalam APBN-P 2017 sebesar 5,2% sulit tercapai. Pemerintah memang merevisi dengan skenario optimistis cuma di level 5,17%.

Beleid berupa stimulus moneter tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu jawaban untuk mendorong laju perekonomian dalam beberapa kuartal ke depan. Apalagi akhir-akhir ini juga berkembang pandangan bahwa sampai dengan tahun 2019, diprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5% dan beberapa pihak menyebut sebagai kondisi normal baru.  

Jika dikalkulasi sejak awal 2016, BI cukup agresif dalam mengguyurkan stimulus moneter. Secara kumulatif, suku bunga acuan telah turun sebesar 175 bps atau 1,75%. Namun roda perekonomian belum bergerak cepat seperti yang diharapkan. Realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2016 hanya 5,02%, meleset dari target pemerintah 5,2%.

Setelah BI menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps timbul pertanyaan, apakah stimulus moneter  bisa efektif mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan sasaran ekonomi makro lainnya.

Kebijakan ekonomi baik moneter ataupun fiskal ditempuh untuk menyikapi siklus ekonomi di suatu negara. Relatif kurang efektifnya stimulus moneter yang telah diberikan karena kurang lancarnya transmisi kebijakan itu ke sektor riil. Harapan bank sentral, pelonggaran moneter ini diikuti pemangkasan suku bunga oleh perbankan.  Namun, upaya itu belum membuahkan hasil. Biasanya ada time lag sekitar tiga bulan sampai kebijakan ini direspon perbankan. Reaksi yang pertama kali diambil adalah penurunan bunga simpanan agar biaya dana turun dan memangkas bunga kredit.

1 2 Next