Share  

CEO Talk

Kami naikkan efisiensi dan produktivitas

Oleh : Dasuki Amsir — Dirut PT Holding Perkebunan Nusantara III
  Kamis, 03 Agustus 2017    14:49 WIB

Mengelola Perusahaan dengan banyak anak usaha bukanlah perkara mudah, apalagi saat kinerja keuangan rugi dan utang yang cukup besar. Pada Jurnalis KONTAN Roy Franedya, Dasuki Amsir, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III memaparkan strategi membenahi perusahaan plat merah ini.

Saya baru masuk perusahaan sektor riil pada 2015 lalu, sejak ditunjuk sebagai Direktur Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Sepuluh bulan kemudian, saya ditunjuk sebagai Direktur Utama PTPN IV.

Pada April lalu, pemerintah menunjuk saya sebagai Direktur Utama holding Perkebunan Nasional PTPN III. PTPN III merupakan induk usaha dari  14 perusahaan perkebunan milik pemerintah. Sebelumnya, saya berkarier sebagai bankir selama 32 tahun.

Ketika pertama kali ditunjuk sebagai orang nomor satu, Menteri BUMN berpesan agar bekerja profesional dan memiliki integritas yang tinggi untuk memperbaiki kinerja Grup Perkebunan Nasional.

Kami diminta memenuhi target yang ditetapkan dan pemerintah berjanji memberikan dukungan dalam pengembangan bisnis.

Pada prinsipnya dalam menjalankan dan mengembangkan Grup PTPN ini, saya melanjutkan apa yang telah disusun oleh direktur utama sebelumnya (Elia Massa Manik). Tetapi, saya tambahkan penajaman, pemfokusan, dan memperkuat visi. Intinya, kami mempertahankan kinerja yang sudah baik dan tidak menjadi menurun.

Hal yang kami lakukan saat ini adalah melanjutkan pembenahan kinerja keuangan. Pada tahun 2015, holding PTPN III mencatatkan kerugian konsolidasi Rp 613 miliar.

Namun, setelah dilakukan penyajian ulang (restatement) laporan keuangan 2015 dalam tahun buku 2016, kerugian membengkak Rp 1,082 triliun.

Hal ini merupakan hasil penilaian dari kantor akuntan publik (KAP) Ernest & Young (E&Y). Mereka menemukan ada aset yang tidak produktif atau berkualitas buruk, seperti tanaman atau kebun yang rusak atau tanaman yang ditanam pada lahan sengketa dimana posisi PTPN lemah dan masih dibukukan dalam laporan keuangan.

Padahal dalam standar akuntasi, hal itu harusnya tidak dicatatkan. Maka pada laporan keuangan yang diaudit E&Y dilakukan impairment. Aset tersebut dihapuskan sehingga berdampak pada kerugian PTPN.

Sebelumnya, PTPN menggunakan KAP sendiri-sendiri dan ada yang kredibilitasnya diragukan.

Ada juga masalah utang ke perbankan. Totalnya Rp 33 triliun. Utang ini terjadi dari 2010- 2015. Secara umum, ini tidak ada masalah karena debt to equity (DER) masih di bawah 200%.

Batas maksimalnya antara 200% hingga 250%. Tetapi, tetap utang harus diselesaikan agar tak membebani perusahaan.

1 2 3 Next