Share  

CEO Talk

Visi kami jadi pemain global dan terbesar

Oleh : Iwan S. Lukminto — Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk
  Kamis, 03 Agustus 2017    15:07 WIB

Ada yang bilang tekstil sedang mengalami sunset industry. Tapi, Iwan Setiawan Lukminto, Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) tidak percaya. Di tangan anak kedua mendiang HM Lukminto itu, Sritex sukses. Kepada jurnalis KONTAN (Agung Jatmiko, Titis Nurdiana, dan Jane Apriliani) dia berbagi kiat.

Kiprah saya di Sri Rejeki Isman atau Sritex dimulai hampir 20 tahun silam, saat krisis ekonomi dan moneter melanda Indonesia pada 1997.

Saat itu saya baru pulang dari Amerika Serikat (AS) setelah menuntaskan kuliah di sana. Di tengah ekonomi nasional yang tidak menentu, saya dipercaya manajemen untuk menjadi juru bicara Sritex.

Tentu ada alasannya mengapa saya dapat tugas pada posisi tersebut. Meyakinkan mitra tak semudah membalikkan telapak tangan.

Pada masa krisis moneter, semua berjalan negatif. Kami mau membuka letter of credit (LC) saja susah. Selain itu, kondisi keamanan juga tergolong runyam. Tidak ada yang percaya kepada Indonesia.

Karena alasan itu, saya dikirim untuk meyakinkan klien bahwa pesanan mereka kepada kami tetap aman. Kami pastikan kepada kolega dan pelanggan kami di luar negeri bahwa Sritex tetap berdiri kokoh di masa krisis ekonomi.

Intinya, kemitraan kami dan buyer tetap harus dijaga. Apalagi, perusahaan kami juga bergerak di bidang ekspor.

Jadi, ketika rupiah terpuruk terhadap dollar AS pada masa krisis, kami bisa mendapatkan berkah dari windfall akibat melambungnya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah.

Mulai tahun 2000, Sritex mulai menemukan bentuk, setelah sebelumnya di dekade 1980 dan 1990 masih mencari bentuk, mencari kekuatan produk yang pas untuk Sritex. Stabilitas baru terlihat setelah Sritex melewati masa-masa krisis moneter.

Saya ingat, pada dekade 1980-an dan 1990-an, bisnis kami memang berat. Produk uniform atau seragam baru diklasifikasikan cocok bagi Sritex baru pada 1990-an. Mendistribusikan seragam tentara juga dilakukan pada dekade tersebut.

Kami terus berevolusi. Antara lini tidak ada yang saling mendahului. Kami menyukai diversifikasi. Terkadang produksi uniform rendah.

Tapi sebaliknya produk fesyen tinggi. Begitu pula sebaliknya. Masing-masing saling mengisi dan jadi andalan. Jadi, saling seimbang adalah business model kami.

1 2 3 Next