Share  

CEO Talk

Kami memang harus berlari cepat

Oleh : Mas Wigrantoro R. Setiyadi — Predir PT Krakatau Steel Tbk
  Senin, 14 Agustus 2017    14:45 WIB

Meski menjadi salah satu perusahaan manufaktur besar di negeri ini, Krakatau Steel belum bisa bersaing dengan perusahaan global sejenis.

Perlu langkah kuat untuk membenahinya. Keada Jurnalis KONTAN Agung Jatmiko, Mas Wigrantoro R. Setiyadi, Presiden Direktur PT Krakatau Steel Tbk berbagi strategi.

Bulan Maret 2017 boleh dikata menjadi babak baru dalam perjalanan karier profesional saya. Saat itu, saya ditunjuk untuk memegang posisi sebagai pimpinan di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Sejak April 2017, saya resmi diangkat sebagai Presiden Direktur. Tentu penunjukan saya sebagai pimpinan di Krakatau Steel juga dibarengi harapan dari pemegang saham.

Sebagai perusahaan milik negara yang strategis, Krakatau Steel selama lima tahun ini merugi. Nah, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menginginkan ke depan tidak ada lagi BUMN yang merugi.

Jadi, amanah yang saya emban adalah membuat perubahan di Krakatau Steel dari perusahaan yang menanggung rugi menjadi yang menghasilkan laba.

Tak hanya itu, saya juga diharapkan melakukan transformasi Krakatau Steel jadi perusahaan yang berkelas.

Krakatau Steel ini didirikan tahun 1970-an, sebelumnya bernama Baja Trikora oleh Ir. Soekarno. Di periode yang sama, Korea Selatan juga membentuk perusahaan bernama Posco.

Tahun berdirinya sama, namun dalam perjalanannya, Posco bisa melejit, tumbuh berkembang pesat, sedangkan Krakatau Steel ketinggalan jauh.

Jadi, amanah kedua saya adalah bagaimana membangun Krakatau Steel menjadi perusahaan yang kompetitif dan sejajar dengan perusahaan baja kelas dunia.

Mungkin banyak orang menganggap amanah yang saya emban ini berat, namun amanah itu tidak boleh dipikirkan berat ringannya, melainkan harus dijalankan secara sungguh-sungguh.

Sejak dulu, saya memang tertantang untuk berkiprah dalam perusahaan yang sedang dalam kondisi tidak terlalu baik. Berhasil atau tidaknya mengawal perusahaan yang sedang terpuruk itu lebih kelihatan.

Ruang bergerak pun bisa lebih besar, karena dalam perusahaan yang sedang terpuruk, kesempatan kita mengimplementasikan ilmu jauh lebih besar.

1 2 3 Next