Share  

Kopi Pagi

Bukan tukang suruh

Oleh : Novie Riyanto Rahardjo — Presiden Direktur AirNav Indonesia
  Selasa, 29 Agustus 2017    13:08 WIB

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kemudian pindah menjadi pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuat saya harus bermetamorfosis.

Dari seorang birokrat menjadi praktisi. Terdapat perbedaan yang sangat terasa. Ketika dulu sebagai birokrat harus membuat regulasi. Kini sebagai praktisi, saya harus mematuhi regulasi.

Namun, hal yang sama dari birokrat dan praktisi adalah keduanya harus sama-sama memahami regulasi yang berlaku. Tujuannya agar semua kegiatan bisa berjalan.

Kunci sukses dalam peralihan posisi ini adalah komunikasi. Pendekatan saya sebagai pemimpin perusahaan pemantau navigasi udara adalah komunikasi.

Meski terdengar klise dan biasa-biasa saja, komunikasi bisa membuat seorang pemimpin bisa dinilai demokratis atau tidak.

Saya menilai, apabila alur komunikasi bisa terjalin baik dari berbagai level, hampir dipastikan kesalahan dalam bekerja dapat diminimalisir.

Bagi saya sebagai pimpinan AirNav Indonesia, komunikasi bukan hanya elemen dasar untuk bekerja mengawasi sistem navigasi udara. Komunikasi yang baik juga menjadi roh dalam kepemimpinan saya.

Menurut saya, lewat komunikasi yang baik, pemimpin bisa memberikan contoh bagi semua karyawan.

Ketika menghadapi sebuah masalah di perusahaan, seorang pemimpin bisa langsung dinilai dapat memberikan contoh atau tidak melalui respon awal yang disampaikan. Dan hal itu merupakan bentuk komunikasi.

1 2 Next