Share  

Ibl

Konfigurasi nilai bisnis

Oleh : Eka Ardianto — Faculty Member Prasetiya Mulya Business School
  Senin, 06 Januari 2014    12:47 WIB

Banyak buku dan literatur yang mengulas berbagai strategi bisnis. Tulisan ini menawarkan alternatif lain dalam melihat strategi bisnis, yaitu sebagai konfigurasi nilai bisnis.

Strategi bisnis merupakan konfigurasi nilai bisnis, karena pasar adalah suatu konfigurasi (Storbacka dan Nenonen, 2011). Dalam pengertian tersebut, setiap pihak memiliki ketergantungan satu dengan yang lain, sehingga membentuk konfigurasi. Apabila konfigurasi tersebut tidak tercapai, pasar akan menjadi tidak harmoni atau mengalami kekacauan. Untuk menjaga harmoni, diperlukan para aktor yang memiliki kemampuan mengonfigurasi yang sekaligus merupakan strategi bisnis.

Lalu, apa gerangan konfigurasi itu? Mari kita coba memahaminya lewat analogi pekerjaan seorang arsitek yang mendapat tugas merancang rumah. Arsitek dalam merancang desainnya, memiliki berbagai pilihan material bangunan dengan berbagai pilihan warna. Selain itu, tentu dia juga melihat berbagai aspek, seperti aspek teknis konstruksi dan lingkungan, aspek identitas desain sang arsitek. Namun, tidak kalah penting dari semua itu adalah aspek perilaku dan kebutuhan mereka yang akan mendiami rumah tersebut, serta aspek sosial masyarakat di lingkungannya.

Demikian pula yang dilakukan oleh pebisnis. Ia adalah seorang perancang konfigurasi nilai bisnis. Karena pasar adalah suatu konfigurasi, pebisnis merancang siapa saja yang dilibatkan dalam konfigurasinya. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa konfigurasi nilai bisnis itu? Jawabnya, ada empat hal: perspektif, aktor, pola konfigurasi, dan jenis relasi.

Yang dimaksud dengan perspektif dalam hal ini adalah sudut pandang yang memberikan nilai suatu bisnis. Karena bersifat konfigurasi, tentu yang dimaksud adalah multiperspektif, seperti perspektif ekonomi, sosial, lingkungan, kemanusiaan, hingga sejarah, dan seni budaya. Sebuah konfigurasi nilai bisnis melibatkan multiperspektif. Implikasinya, sebagai contoh, produsen kecap melibatkan sejarah candi-candi di Nusantara dalam strategi bisnisnya untuk menunjukkan ada hubungan antara kuliner Nusantara yang terdapat dalam relief candicandi dengan penikmatan sebuah kecap.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan aktor dalam konfigurasi nilai bisnis adalah pihak-pihak yang terlibat. Tentu saja tidak hanya pelanggan, karyawan, dan pemasok; tapi bisa saja termasuk pemerintah, masyarakat, hingga komunitas konsumen. Di era dunia serba digital, konektivitas menjadi salah satu penentu. Karena itu membangun hubungan dengan berbagai aktor dalam konfigurasi bisnis akan meningkatkan nilai suatu bisnis.

Berikutnya adalah pola konfigurasi: seperti apa bangunan hubungan masing-masing aktor yang terlibat? Apakah setiap aktor memiliki bangunan hubungan ke suatu “pusat”, yaitu pebisnis, ataukah beberapa aktor membangun hubungan terlebih dahulu dengan aktor yang lain, baru kemudian berhubungan dengan pebisnis? Apakah pebisnis langsung berhubungan dengan masyarakat, atau melibatkan komunitas konsumen lebih dulu? Setiap pola memiliki implikasi nilai bisnis berbeda.

Ukuran sukses konfigurasi nilai bisnis

Selanjutnya adalah jenis relasi. Ada lima jenis relasi dalam konfigurasi bisnis (Halal, 2001). Pertama, relasi resolusi dari suatu konflik. Hal tersebut merupakan suatu contoh bagaimana konfigurasi berperan untuk menjaga harmoni suatu pasar. Kedua, relasi kontribusi, masing-masing pihak memberikan kontribusi terhadap kompetensi yang dimilikinya.

Jenis relasi berikutnya, ketiga,  adalah relasi kepentingan, yaitu adanya kepentingan tertentu yang diperlukan oleh aktor-aktor. Relasi kompetisi adalah jenis relasi keempat. Relasi ini juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas nilai konfigurasi bisnis. Kelima, relasi kolaborasi: peran dari suatu konfigurasi nilai bisnis untuk memberikan solusi terhadap berbagai masalah.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah “ukuran” sukses sebuah konfigurasi bisnis? Bila sang arsitek ditanya apa ukuran sukses konfigurasi rancangannya, tentu jawabnya sangat beragam. Mengacu pada beberapa penghargaan arsitektur terbaik, kriteria yang sering muncul adalah kompetensi teknik dan desain, melibatkan lingkungan fisik dan sosial, memperhatikan pluralisme, dan tentunya memperhatikan kebutuhan dan perilaku penghuninya atau dengan kata lain memanusiakan manusia.

Demikian pula halnya dengan pebisnis. Karena pasar adalah suatu konfigurasi, pebisnis memiliki peran ikut menjaga harmoni pasar melalui konfigurasi nilai bisnis. Ukuran sukses tentu tidak hanya meraih kinerja bisnis—seperti profitabilitas dan pertumbuhan—tetapi juga keterlibatan lingkungan fisik dan sosial, perhatian pada pluralisme, serta tentu perhatian pada kebutuhan dan perilaku pelanggan dan karyawan.

Sejauh mana efektivitas suatu konfigurasi bisnis? Penelitian consumunity—penelitian mengenai proses komprehensif konsumsi komunitas yaitu proses yang terdiri dari: pembentukan, produksi, interaksi, dan kontribusi komunitas, oleh Prasetiya Mulya Business School sejak tahun 2007—menyatakan bahwa konfigurasi bisnis yang terdiri dari pebisnis, komunitas konsumen, karyawan, dan masyarakat memberikan nilai positif, baik secara finansial, sosial, budaya, dan lingkungan. Dari sisi finansial, komunitas konsumen akan cenderung lebih membeli produk suatu perusahaan apabila nilai bisnis yang ditawarkan oleh pebisnis tidak hanya memiliki nilai manfaat produk, tapi juga nilai sosial, budaya, maupun lingkungan.

Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bisnis tidaklah cukup hanya memberikan nilai melalui produk, tetapi juga dengan melalui suatu konfigurasi nilai bisnis. Melalui konfigurasi nilai bisnis, nilai yang akan dihasilkan akan jauh lebih mulia, tidak hanya ikut serta dalam merawat lingkungan, tetapi juga turut serta melestarikan sejarah, bahkan ikut memanusiakan manusia.