Share  

Ibl

Harap-harap cemas

Oleh : Safitri Siswono — Adjunct Faculty di Prasetiya Mulya Business School
  Senin, 14 April 2014    13:07 WIB

Angka sembilan biasanya menjadi angka keramat bagi para pebisnis keturunan Tionghoa. Angka ini bisa menjadi penentu jalan atau tidaknya suatu proyek, jumlah lantai dalam gedung, jumlah kamar dalam hotel, dan sebagainya. Angka sembilan ini selalu membuat hati harap-harap cemas, apakah bisnis yang dijalankan akan untung atau untung sekali.

Tahun 2014 ini, Indonesia juga menghadapi dua kali angka sembilan yang keramat. Bukan hanya sebagai penentu bisnis, tapi juga penentu bagi nasib bangsa dan negara kita ke depan. Angka sembilan yang membuat kita harap-harap cemas itu adalah 9 April (pemilihan umum legislatif) dan 9 Juli (pemilu presiden dan wakil presiden).

Secara makroekonomi, kinerja Indonesia cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 sebesar 5,78%. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu memang sedikit melambat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena inflasinya cukup tinggi yaitu 8,38%. Meski begitu, indikator ini kurang dirasakan oleh masyarakat kelas bawah sehingga kampanye dan propaganda: “Piye kabare? Penak jamanku, to?” terasa sungguh menyentuh di hati masyarakat.

Dalam skala yang jauh lebih besar, negara ini bagaikan suatu perusahaan yang menghadapi masa turn around. Sesungguhnya turn around ini memiliki jiwa yang serupa dengan reformasi. Jadi, semoga angka sembilan pada tahun 2014 ini dapat mengubah reformasi dalam arti kata reform (berubah bentuk) untuk segera menjadi formed (bentuk yang ajek).

Pada skala perusahaan, terkadang manajemen meremehkan adanya indikasi krisis akan terjadi. Tak heran, reaksi yang dilakukan untuk mengatasi potensi krisis biasanya dengan meningkatkan keuntungan jangka pendek, namun terkadang mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Contohnya, ada suatu perusahaan jasa yang mengalami kesulitan kas. Reaksi yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah meningkatkan penjualan kontrak maintenance sebanyak-banyaknya. Harapannya, langkah itu akan berhasil meningkatkan kas perusahaan.

Namun, manajemen tidak menyadari bahwa secara historis klien tersebut melakukan termin pembayaran empat bulan, dengan margin < 5%. Alhasil, semakin besar penjualan yang dilakukan maka semakin besar pula masalah kas yang harus dihadapi oleh perusahaan tersebut. Terutama karena kita ketahui bahwa karyawan digaji setiap bulan, dan bukan tiap empat bulan.

Seperti penyakit, semakin cepat kita mengetahuinya tentu semakin mudah untuk ditangani dan akan semakin cepat pula sembuhnya. Apa saja tanda-tanda penyakit pada suatu perusahaan tersebut?

Pertama, kondisi keuangan. Indikatornya adalah likuiditas yang kian menurun, ketidakmampuan memenuhi perjanjian utang, dan peningkatan jumlah piutang di atas 30 hari.

Kedua, kondisi profitabilitas seperti margin laba sebelum pajak yang semakin menurun, enggan melakukan investasi baru, atau regulasi pemerintah yang tidak menguntungkan perusahaan.

Ketiga, masalah sumber daya manusia. Antara lain mundurnya karyawan kunci di bidang keuangan atau banyak karyawan yang keluar dalam suatu periode tertentu.


Langkah pengaman

Jika perusahaan mengalami hal-hal tersebut di atas, sebaiknya manajemen segera mengambil tindakan pengamanan. Langkah pertama, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, maka perlakukanlah setiap turn around seperti layaknya suatu krisis.

Perusahaan yang menghadapi krisis akan bersedia mempertimbangkan dan melakukan hal-hal berani agar bisa mengubah arah perusahaan. Perubahan ini perlu dikomunikasikan dengan baik, agar diterima sebagai kesempatan untuk maju. Contohnya, Nokia, yang sekarang fokus pada bisnis telekomunikasi, dulunya merupakan perusahaan karet dan kertas.

Kunci dari penanganan krisis adalah signifikan dan segera. Rencana per kuartal atau tahunan harus dipersempit menjadi rencana harian. Pencapaian yang diharapkan harus terukur dengan jelas dan bersifat kuantitatif, seperti menggunakan rasio keuangan dan arus kas.

Review program setiap beberapa hari. Jika ukurannya tidak semakin membaik, maka pasti ada yang salah. Segera ambil tindakan untuk memperbaikinya.

Kinerja perusahaan juga sangat bergantung pada sumber daya manusianya. Maka dalam menghadapi krisis, perpindahan ataupun pengurangan personel harus dilakukan secara realistis. Prinsipnya adalah “Untuk menyelamatkan kapal besar, beserta keluarganya, harus bisa mengorbankan beban berlebih.”

Langkah kedua, secara fundamental, bisnis yang sukses adalah bisnis yang mampu menghasilkan uang. Jadi, perusahaan harus fokus menghasilkan uang secara tunai yang diterima oleh perusahaan. Perusahaan harus memiliki jumlah uang yang cukup untuk membayar gaji, utilitas, sewa, dan sebagainya.

Jika melakukan investasi, fokus pada waktu dan jumlah uang yang akan masuk ke perusahaan, dan apakah selama tenggat waktu tersebut perusahaan dapat selamat? Ingatlah bahwa semua angka proyeksi dari suatu investasi baru hanyalah angka-angka di atas kertas. Fokuslah pada uang yang keluar dan masuk ke kantong perusahaan.

Langkah ketiga, menghadapi krisis membutuhkan ketahanan mental dan fisik sementara ketahanan setiap orang bervariasi. Ciptakanlah “quick wins”. Yaitu, kemenangan-kemenangan kecil yang lebih cepat untuk diselesaikan, lebih mudah dicapai, dan merupakan bagian dari suatu kemenangan besar. Hal ini akan mengisi ulang energi dan stamina para karyawan. Agar penanganan turn around dapat dilakukan secara efektif, berikan instruksi dengan ukuran pencapaian yang jelas (bersifat kuantitatif), dan berikan insentif segera bagi mereka yang mencapainya.

Langkah yang diberikan memang hanya tiga, karena tiga kali tiga sama dengan sembilan, kan? Angka yang sering dianggap keramat dan membawa keberuntungan
Semoga tiga langkah ini dapat berguna, baik bagi mereka yang di perusahaan, maupun yang terpilih pada tanggal 9 di tahun 2014 ini. Kami sebagai masyarakat menanti hasilnya dengan harap-harap cemas. Tapi itu lebih baik daripada sudah berharap cemas kan?