Share  

Diaryppm

Modernisasi Bisnis Tua

Oleh : Aries Heru Prasetyo — Ketua Program Sarjana PPM School Of Management
  Senin, 04 Agustus 2014    08:00 WIB

KESIAPAN Indonesia dalam melangkah menuju era perdagangan bebas layak untuk dipertanyakan. Selain karena adanya sejumlah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dengan baik, seperti perbaikan infrastruktur yang menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lain, juga masalah ketidakpastian sumber energi, termasuk tarif listrik yang cenderung naik; serta animo tenaga kerja, yang memilih menjadi pekerja formal daripada mengembangkan sektor pertanian dan kreatif.

Penilaian tentang ketidaksiapan itu juga dipicu oleh ketidakseimbangan antara aktivitas ekspor dan impor. Alhasil, hingga kini sejumlah daerah di Tanah Air masih sebatas "pasar" bagi produk-produk asing.

Pada edisi ini, beberapa anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) berupaya mencermati setiap realitas secara kontekstual. Beberapa waktu lalu, hasil studi di Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan bahwa daerah yang dulunya dikenal sebagai pusat kerajinan produk fashion berbasis kulit itu kini menghadapi krisis tenaga kerja. Sejumlah besar angkatan kerja produktif baru, atau mereka yang berusia 19 tahun-28 tahun, cenderung untuk memilih menjadi pegawai daripada mengembangkan dirinya menjadi pebisnis di sektor kreatif.

Keuntungan yang rendah serta pasar yang mulai sempit disebut-sebut sebagai pemicu tren itu. Dalam penelaahan lebih lanjut, terlihat bahwa rendahnya pemahaman pebisnis akan dimensi kualitas serta persyaratan perdagangan internasional merupakan pemicu kondisi tersebut.

Tak jarang, bahkan mereka belum memahami benar apa yang menjadi aturan standar nasional Indonesia. Realitas ini spontan menjadi keprihatinan bersama.

Untuk meningkatkan kegairahan industri tersebut di tanah air, kini sejumlah komunitas anak muda mulai bangkit dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis media sosial. Mereka yang dipandang sebagai bagian dari gen Y dan gen Z itu mengangkat tema nasionalisme dalam setiap produk yang dihasilkan.

Sektor kreatif tak lagi dipandang sebagai sumber pendapatan masa depan, melainkan sebagai media untuk mengembangkan nasionalisme bangsa. Produk-produk industri ini digagas dari sejumlah besar bahan yang merupakan hasil bumi Nusantara. Tak hanya itu, motif, corak, hingga bahan baku khusus yang digunakan, seperti bahan pewarna, juga mulai kembali ke proses tradisional dengan sentuhan modern.

Baskara, yang menggeluti bisnis fashion berbahan dasar kulit, menyebut, tak selamanya proses produksi secara tradisional, alias diproduksi dengan tangan sang pekerja, kuno. "Justru, di situlah orisinalitas ide berawal," ujar Baskara, yang kini menimba ilmu di Program Studi Sarjana Manajemen Bisnis PPM.

Pernyataan Baskara juga terafirmasi dengan pendapat para perajin batik tulis di Yogyakarta. Penentuan target Bisnis yang kini mulai beranjak mature termakan usia itu, sebenarnya sangat berpotensi untuk dikembangkan lagi, dan kembali masuk dalam fase pengenalan. Untuk itu, kehadiran ide-ide inovatif dan kreatif mutlak diperlukan dalam memberikan warna modern pada usaha.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan berhasil dipetakan sebagai berikut. Pertama, dalam hal produk. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasar mulai meninggalkan produk bernilai seni, seperti batik tulis atau kerajinan tas dan sepatu Tanggulangin karena adanya kesan kuno. Kenyataan itu mengingatkan kita bahwa updating selera pasar dan kebutuhan konsumen merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan para pebisnis kreatif.

Cara bisnis yang ditempuh juga sangat sederhana. Meski telah rajin menjalankan kegiatan produksi, pebisnis tetap harus bergaul akrab dengan pasar, mulai dari menjalin komunikasi secara efektif dengan pelanggan hingga membuka wawasan akan produk sejenis dari luar negeri. Fase itu diyakini mampu menghindarkan bisnis kita dari kesan sesuatu yang kuno.

Para pebisnis kreatif harus memahami bahwa pasar telah terdidik untuk berkonsumsi secara hemat. Perilaku ini populer juga dengan sebutan sensitif terhadap harga. Alhasil, PR yang bertujuan untuk menurunkan biaya produksi dan biaya lain-lain seyogianya mampu diselesaikan secara efektif oleh pebisnis kreatif.

Satu di antara agenda yang harus diselesaikan itu adalah memanfaatkan bahan baku impor berlabel murah. Meski pandangan ini masih menjadi perdebatan mengingat kualitas yang disajikan umumnya lebih rendah, namun mengkombinasikan bahan lokal berbiaya tinggi dengan sejumlah bahan impor yang relatif lebih murah akan menghasilkan perpaduan biaya yang cukup bersaing. Pebisnis hanya perlu menjaga dimensi utama dari kualitas seperti motif produk.

Sedangkan aspek lain yang dapat dihemat kiranya perlu mendapat inovasi berbasis efisiensi. Kedua, pebisnis juga dapat melakukan sentuhan modern pada aspek pemasaran produk. Dewasa ini, peran targeting dalam pemasaran akan sangat menentukan ketepatan bahasa komunikasi yang dilakukan. Ketika penetapan target pasar terjadi dengan benar, penerimaan produk akan terjadi secara efektif.

Coba kini tengok komunitas pecinta batik nusantara. Komunitas yang menggunakan aplikasi media sosial sebagai media "propaganda" ini terdiri dari generasi muda yang memandang batik, sebagai corak busana sehari-hari.

Cara pandang mereka terhadap batik pun terbilang sangat kreatif. Batik, yang semula dipandang sebagai busana yang cocok untuk situasi formal, kini mulai disandingkan dengan produk-produk yang lazim mereka pakai sehari-hari. Satu di antaranya adalah dengan membuat T-shirt, atau kaus oblong, bermotif batik.

Paradigma itu secara tidak langsung telah memasyarakatkan penggunaan batik. Kini, batik bisa digunakan oleh segmen anak muda untuk bergaul sehari-hari. Situasi ini menciptakan siklus yang baru bagi bisnis batik.