Share  

Diaryppm

Mengendus Peluang MEA

Oleh : Aries Heru Prasetyo — Ketua Program Sarjana PPM School of Management
  Senin, 08 September 2014    08:00 WIB

ANDA pasti familier dengan frasa the show must go on. Istilah itu lazim digunakan untuk menunjukkan bahwa bisnis yang ditekuni harus tetap dilaksanakan dalam situasi apa pun, termasuk ketika menghadapi agenda politik yang berlangsung sekali dalam lima tahun.

Sepanjang dua pekan terakhir, nilai tukar rupiah tertekan akibat rumor negatif yang terkait dengan ajang pemilihan presiden. Belum lagi opini negatif yang mendera daya saing industri lokal. Pernyataan pemerintah tentang minimnya daya saing sektor domestik di pasar internasional seakan menegaskan gambaran tentang suramnya bisnis di Nusantara. Namun, bukankah roda bisnis harus tetap berputar meski langit mendung?

Saya teringat pada pernyataan mantan menteri keuangan kita saat ide perdagangan bebas ASEAN bergulir. Kala itu, beliau berpandangan bahwa tidak akan ada saat yang tepat bagi Indonesia untuk masuk dalam perdagangan bebas. Sehingga "saat" itulah yang harus diciptakan. Singkat kata, tahun 2015 dijadikan sebagai garis start.

Tujuh tahun berlalu sejak saya mendengar pernyataan itu, sepanjang waktu itu pula, upaya strategis pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur nasional belum terlihat hasilnya. Yang muncul malah sejumlah problematika nasional, mulai dari energi dan subsidi bahan bakar minyak hingga kebijakan mobil yang ramah lingkungan.

Semua itu telah mengarahkan industri lokal ke biaya ekonomi tinggi. Tantangan itu kiranya satu-satunya hal yang adil dalam perekonomian kita, sebab ekonomi biaya tinggi menyerang tak hanya bisnis yang sudah mapan tetapi juga pebisnis kelas pemula. Coba tengok bagaimana pebisnis lokal harus tergantung pada produk dan bahan baku impor. Ketika rupiah tertekan, secara otomatis beban yang ditanggung produsen di dalam negeri akan semakin tinggi.

Artinya, jika target margin ditentukan sama, peningkatan biaya produksi ini akan membuat harga produk menjadi selangit. Ketika daya beli konsumen tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga, otomatis permintaan akan turun. Celakalah pebisnis yang menggunakan utang sebagai sumber pendanaannya. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kekuatan likuiditas usaha.

Mengendus peluang di era perdagangan bebas ASEAN sebenarnya bukan suatu hal yang sulit. Beberapa ide berikut dapat dikembangkan.

Glocalization

Pertama, menciptakan produk berbasis nilai-nilai lokal. Semakin tradisional citra sebuah produk, akan semakin tinggi pula nilai jual produk itu. Inilah trend yang akan dihadapi di pasar bebas.

Anda masih ingat dengan konsep glocalization? Konsep ini mengajarkan kita akan arti penting memasukkan kandungan lokal ke dalam produk-produk besutan Indonesia sehingga produk-produk nusantara dapat menjadi primadona di pasar global.

Dewasa ini patut disadari bahwa pasar sedang bergerak untuk kembali menggandrungi produk-produk yang bernilai historis dari setiap daerah yang ada. Kebanggaan dan citra produk yang muncul ketika konsumsi dilakukan menunjukkan bahwa itulah harapan konsumen yang sebenarnya.

Coba tengok bagaimana para profesional menikmati secangkir kopi. Sepuluh tahun yang lalu, munculnya kafe dan restoran yang secara spesifik mengusung kopi dari luar negeri menjadi trendsetter. Namun masa-masa itu telah berlalu. Konsumen yang sama mulai meninggalkan kebiasaan itu untuk bergeser menikmati kopi luwak, atau kopi dari daerah tertentu, semisal kopi dari daerah Toraja atau Nusa Tenggara Timur.

Tren ini tidak hanya melanda konsumen domestik namun juga mereka yang berasal dari beberapa negara tetangga. Uniknya, sembari menikmati sajian, tidak jarang mereka mendiskusikan hal-hal terkait asal usul kopi tersebut. Di situlah pembicaraan akan mengarahkan konsumen untuk memperhatikan setiap hal yang terkait dengan daerah penghasil kopi yang diteguk, mulai dari panorama hingga produk-produk lokal. Alhasil, peluang juga muncul.

Nah, untuk mendukung upaya tersebut, pebisnis lokal harus konsisten dalam melakukan inovasi. Langkah ini hendaknya tidak lagi dipahami semata-mata dalam konteks inovasi produk, melainkan juga pemasaran dan proses. Buntutnya, bisa jadi produk yang ditawarkan sama dengan produk impor namun karena diperkenalkan dengan cara yang berbeda, hal tersebut akan mampu menarik perhatian pasar.

Kedua, kemajuan dunia internet memberikan peluang bagi produsen untuk mengumpulkan ide inovasi sebanyak-banyaknya, termasuk dari produk yang sudah mapan sekalipun. Pemahaman bahwa kini masih terdapat ceruk-ceruk pasar yang tidak terlayani oleh produk yang sudah tersedia merupakan salah satu modal inovasi yang kuat.

Meski kemungkinan besar ceruk itu sangat sensitif terhadap harga, dalam perdagangan bebas, pemain lokal berpeluang untuk melayani ceruk-ceruk yang ada di sejumlah negara tetangga. Selanjutnya, melalui konversi mata uang, pebisnis diharapkan mampu meraup keuntungan yang lebih.

Poin ketiga adalah terkait peluang untuk memperluas jejaring. Setelah bisnis Anda mengantongi hak atas kekayaan intelektual, itu saatnya bagi Anda untuk memperluas jejaring melalui sistem waralaba.

Pola ini diyakini sebagai mekanisme penetrasi pasar yang masif. Anda tinggal perlu melindungi bisnis dengan standard operating procedure yang ketat, sehingga di mana pun bisnis dijalankan, konsumen tetap memperoleh produk dengan kualitas maupun layanan yang sama. Alhasil, ketika konten bahan baku didominasi oleh produk lokal, mengembangkan bisnis juga berarti menyebarluaskan potensi Indonesia di negara-negara lain.

Bila langkah ini dapat diduplikasi secara masal, niscaya bangsa kita mampu menjawab tantangan di era perdagangan bebas.