Share  

Diaryppm

Bertumbuh dalam Persaingan Sengit

Oleh : Aries Heru Prasetyo — Ketua Program Sarjana PPM School Of Management
  Senin, 24 November 2014    08:00 WIB

LARANGAN ekspor bahan mentah ke luar negeri mungkin terlihat sebagai ancaman bagi sebagian pelaku ekonomi domestik. Namun jika aturan itu ditelaah lebih lanjut, ia memiliki begitu banyak pesan mulia. Regulasi ini tak hanya berpotensi menjadikan perusahaan Anda sebagai pionir, melainkan memperluas jalan seluruh pebisnis domestik untuk menggapai visi market leader, setidaknya di pasar kawasan ASEAN.

Anda mungkin masih ingat dengan premis semakin diasah, bilah pedang akan semakin tajam. Premis itu sering diungkap leluhur kita untuk mengingatkan bahwa tantangan hidup harus dipandang sebagai sebuah realita, bukan sebagai sesuatu yang menyurutkan semangat. Untuk mencapai kesuksesan, seseorang harus menempa ujian yang datangnya bertubi-tubi.

Premis itu kini tak hanya berlaku dalam kehidupan individu, tapi berlaku juga dalam ruang lingkup bisnis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penerapan perjanjian perdagangan bebas ACFTA akan membawa dampak negatif bagi sejumlah sektor industri dalam negeri. Tak sedikit pebisnis yang gulung tikar dan beralih ke sektor yang lain. Tekanan produk impor yang berharga rendah membuat pemain domestik secara perlahan-lahan mundur dari pasar, yang dulu merupakan wilayah kekuasaannya.

Sejumlah pemain domestik memilih untuk tetap beroperasi, meski mereka harus berhadapan dengan risiko mengantongi margin yang sangat tipis. Prinsip dan keyakinan bahwa akan tiba saatnya pasar kembali berpihak ke mereka, bukan lagi sebuah premis.

Sejumlah pemain bahkan sukses di pasar internasional, setelah meninggalkan pasar domestik untuk sementara waktu.

Ada beberapa pelajaran dari fenomena tersebut. Pertama, sebagai insan Indonesia kita telah dilengkapi dengan semangat pantang menyerah. Pengalaman hidup dalam penjajahan selama 350 tahun plus tiga tahun membuat bangsa kita sadar bahwa hidup dalam tekanan dan keterbatasan tidak berarti melemahkan semangat untuk tetap bertumbuh. Sebaliknya, ada banyak peluang untuk berkembang. Tinggal bagaimana kita jeli mencermati kondisi terkini.

Produk murah dari luar negeri yang membanjiri negeri ini ternyata tidak memiliki kualitas yang tinggi. Kenyataan itu membuka peluang strategis bagi pemain domestik. Perusahaan lokal harus mampu mengedepankan kualitas, baik dari sisi produk maupun layanan kepada konsumen.

Ciptakan opini bahwa harga produk lokal, paling tidak, setara dengan value yang ditawarkan. Dalam konteks ini, manajemen perlu memberanikan diri untuk membandingkan produk lokal dengan produk impor. Kesetaraan harga dengan value akan mengembalikan keberpihakan pasar ke pemain domestik.

Makna inovasi

Pembelajaran kedua adalah di dalam keterbatasan yang dipicu oleh persaingan global telah menciptakan sebuah daya inovasi tersendiri. Maraknya temuan putra-putri terbaik bangsa, terutama dalam bidang teknologi tepat guna, merupakan sebuah peluang yang wajib dioptimalkan. Manajemen perlu mempertimbangkan untuk mengakomodasi teknologi lokal di sejumlah bidang.

Tak hanya itu, realitas tersebut juga berhasil membuka peluang bagi kerjasama yang menguntungkan antara perusahaan besar dengan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dalam konteks ini, pemain UMKM lah yang memanfaatkan teknologi tepat guna dalam proses produksinya untuk kemudian menjadi pemasok utama perusahaan skala besar.

Melalui proses kerjasama tersebut, manajemen dapat menghasilkan nilai tambah bagi sebuah produk untuk dapat memasuki pasar ekspor. Sebut saja kerjasama antara institusi bisnis dengan dunia pendidikan yang kini semakin erat. Beberapa temuan dari bangku kuliah kini terbukti mampu menghantarkan perusahaan untuk meraih sukses di pasar internasional.

Saya teringat dengan pengalaman seorang pebisnis yang sukses merambah pasar pupuk di Asia, setelah mencermati sebuah hasil penelitian tentang pupuk yang terbuat dari sebuah mineral lokal. Kini, ia tak lagi menjual mineralnya saja, melainkan hasil produksi dalam bentuk pupuk siap pakai. Tak hanya mengalami peningkatan profit, pola ini juga mampu meningkatkan kesejahteraan setiap pelaku yang termasuk ke dalam supply chain produk perusahaan. Itu berarti, kuncinya ada pada kekuatan inovasi.

Secara konseptual, inovasi dikategorikan menjadi inovasi dalam produk, pemasaran, proses, dan manajemen. Pemahaman tentang inovasi tak lagi sebatas sesuatu yang baru. Inovasi juga dapat dimaknai sebagai hasil pengembangan produk yang telah ada; yang mampu memberikan manfaat lebih optimal ke pengguna.

Tengoklah cara produsen teknologi komunikasi asal China dalam mengembangkan produk untuk memenuhi celah pasar yang sangat luas. Bila dibandingkan dengan produk sejenis, besutan merek-merek terkenal, handphone China cenderung lebih berani menyediakan fitur-fitur yang melengkapi proses pemenuhan kebutuhan konsumen. Uniknya, fitur-fitur itu terkadang tidak ditemui di handphone bermerek. Alhasil, dengan harga yang relatif lebih rendah, produk-produk itu lebih mudah terserap pasar.

Hal selanjutnya yang menarik untuk dicermati adalah meski awalnya produk China menyasar kelas menengah bawah, namun dalam perkembangannya mereka juga percaya diri dalam melayani pasar menengah atas. Di sinilah inovasi pemasaran terjadi.

Ketika produsen berhasil mengusung teknologi hasil pengembangan pemain lokal, mereka berani mengusung produk-produk premium ke pasar tanah air. Mereka sukses meyakinkan konsumen bahwa produk premium diproduksi untuk menyasar kelas atas, sehingga kualitasnya jauh di atas produk-produk berlabel murah. Tak jarang, mereka bersaing head to head dengan beberapa produk premium dari merek-merek ternama.

Semoga wacana ini berguna dalam merumuskan daya saing pemain lokal di tengah persaingan yang kian sengit