Share  

Financialwisdom

Alokasi Aset Investasi (1)

Oleh : Eko Pratomo — Senior Advisor PT BNP Paribas Investment Partners
  Selasa, 02 Mei 2017    17:55 WIB

Di artikel sebelumnya pernah dibahas tentang "Membuat Portofolio Investasi" (3 Desember 2016) yang kemudian di portofolio investasi, kita mengenal pembagian dana investasi ke beberapa jenis instrumen berbeda.

Contohnya, portofolio investasi untuk persiapan pensiun 15 tahun dari sekarang, memiliki alokasi 50% obligasi dan 50% saham. Alokasi aset ini berdasarkan perencanaan investasi untuk mencapai target imbal hasil rata-rata 10% per tahun pada 10 tahun pertama, dengan asumsi rata-rata imbal hasil obligasi 6% per tahun (setelah pajak) dan rata-rata imbal hasil saham 14% per tahun (setelah pajak). Lima tahun berikutnya, alokasi aset perlu diubah, karena sisa waktu 5 tahun riskan untuk memiliki alokasi pada saham sebesar itu.

Membentuk portofolio dengan komposisi alokasi aset tertentu akan memberikan beberapa manfaat. Pertama, mengurangi risiko. Menempatkan 100% dana di satu jenis instrumen berisiko tinggi seperti saham, mungkin tak cocok bagi kebanyakan investor. Kedua, alokasi aset memberikan indikasi (bukan jaminan) untuk mencapai target hasil investasi. Dalam contoh kasus di atas hitungannya sebagai berikut. (50% alokasi obligasi x 6%) + (50% alokasi saham x 14%).

Meski tidak terlalu tepat, asumsi imbal hasil umumnya bisa digunakan berdasarkan data historis dengan menerapkan 'faktor diskon' tertentu. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir IHSG (sebagai indikator imbal hasil saham) membukukan rata-rata imbal hasil historis 16% per tahun, maka estimasi 10 tahun ke depan bisa saja ditetapkan faktor diskon sebesar, misalnya +/- 10% - 20%, sebagai pendekatan konservatif untuk menyederhanakan banyaknya faktor yang mempengaruhi.

Manfaat ketiga, alokasi aset memberi kemudahan dan disiplin, terutama bagi investor yang menerapkan investasi berkala (dengan cara mencicil, misalnya bulanan) dan berinvestasi melalui reksadana.

Untuk contoh tujuan investasi mempersiapkan dana pensiun, kita dapat melakukan standing instruction (auto debet dari rekening tabungan di bank sekaligus menjadi agen penjual reksadana), untuk membeli reksadana secara berkala setiap bulan (seperti mencicil utang). Jika alokasi dana Rp 2 juta per bulan, maka setiap bulan masing-masing Rp 1 juta akan didebet otomatis untuk dibelikan reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham sesuai alokasi aset di atas.