Share  

Siasatbisnis

Belajar dari merger Renault-Nissan

Oleh : Jennie M. Xue — Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis, berbasis di California
  Senin, 05 Juni 2017    16:51 WIB

Mantan Chief Executive Officer (CEO) Renault-Nissan Charlos Ghosn berhasil menyukseskan kembali dua brand ini dan kini ia menjadi chairman aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi. Tiga merek aliansi memproduksi 10 juta unit mobil secara gabungan. Ghosn dikenal sebagai superhero perusahaan mobil terbesar abad ini.

Ghosn adalah keturunan Lebanon yang lahir di Brasil dan mengenyam pendidikan di Prancis. Latar belakang multikultural ini sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan berbagai aliansi yang ia pelopori.

Di tahun 2009, aliansi bernama Alliance Industrial Sourcing berdiri atas dasar kerjasama manufaktur berbagai merek otomobil dan sparepart, sehingga biaya produksi, delivery dan aset lain dapat ditekan.

Cross manufacturing merupakan kunci para partner penetrasi berbagai kesempatan pasar dunia. Aliansi ini adalah bentuk merger Renault dan Nissan. Salah satu best practice adalah implementasi Nissans Intelligent Factory Automation di pabrik-pabrik pembuat otomotif merek Renault. Sistem ini terdiri dari para pekerja lini dengan suplai yang tersinkronisasi dan automatisasi robotik.

Dengan para partner Aliansi, Renault dan Nissan memproduksi berbagai permutasi antara merek Nissan dan merek Renault di Afrika Selatan, Brasil, Barcelona (Spanyol), Meksiko, Busan (Korea Selatan) dan Chennai (India). Bahkan di Busan, Renault yang telah bermitra dengan Samsung, memproduksi Nissan untuk pasar Rusia dan Timur Tengah.

Dengan aliansi tersebut, merek Nissan berhasil sukses kembali terhitung tahun 1999 hingga 2001, setelah beberapa tahun slow.

Di tahun 2013, aliansi ini berhasil mendominasi 10% pangsa pasar dunia. Padahal, sebelum merger, kapasitas Nissan hanya 54% dan tidak punya strategi tepat menghadapi masa depan dunia otomotif yang telah banyak berubah.

Merger antara Renault dan Nissan berbuah baik lantaran beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaannya, Renault dan Nissan sama-sama memiliki sejarah panjang, struktur hirarki kuat, manajemen senior berperan besar dan edukasi Bisnis jangka panjang. Sedangkan beberapa perbedaan mereka malah memperkuat spirit saling belajar: perbedaan kultur, bahasa, gaya pengambilan keputusan, sistem komunikasi dan regulasi perburuhan.

Merger ini juga saling menguntungkan. Renault bukan hanya penolong Nissan, tapi Nissan membawa market share di AS dan Asia. Gabungan kekuatan teknologi mereka juga sangat kuat dan kekuatan desain Renault membantu Nissan yang kurang update. Sedangkan Nissan mempunyai kekuatan engineering Jepang.

Kini manajemen Aliansi sedang memfokuskan diri pada Mitsubishi, agar merek ini kembali berkibar. Diprediksikan Mitsubishi lebih cepat pulih, mengingat best practices yang dipelajari dari Renault-Nissan dapat diaplikasikan.

Masa depan dunia otomotif, termasuk self-driving cars, merupakan tantangan Renault, Nissan dan Mitsubishi. Pada dasarnya, autonomous cars ada dua jenis: tetap dikendalikan manusia tanpa perlu memegang setir dan otomatis sama sekali.

Aliansi akan berkompetisi dengan teknologi mobil dari Silicon Valley, seperti Tesla milik Elon Musk, Google cars, dan Apple cars. Mobil-mobil tersebut beremisi nol dan self-driving (menyetir sendiri), sehingga jalan-jalan di AS dan negara-negara maju akan sangat berbeda dari apa yang kita lihat di Indonesia saat ini.

Bagaimana aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi mengatasi tantangan kompetisi luar biasa dari Silicon Valley? Tampaknya Chairman Ghosn mempunyai pandangan yang simpel, tapi mujarab: "Kami akan terus beradaptasi".

Adaptif adalah strategi jitu. Dengan eksekusi benar dan rapi, semestinya aliansi akan mampu berkompetisi di pasar mobil autonomous, terlepas dari ketidakjelasan di masa depan. Dari segi regulasi, teknis, dan pasar, Ghosn berpendapat, harga akan sangat berpengaruh. Daya beli konsumen akan sangat menentukan sukses atau gagalnya suatu merek.

Yang jelas, Aliansi mendapatkan beberapa keuntungan besar. Seperti economies of scale, inovasi teknologi dari tiga sumber, production mix, consumer base yang luas, sharing biaya dan risiko, saling melengkapi skill dan teknologi serta meningkatkan R&D. Kelebihan-kelebihan ini jelas melebihi kekurangan-kekurangan merger.

Bisakah strategi Renault-Nissan ini diterapkan di perusahaan Anda. Mungkin. Pertimbangkan dengan baik pro dan kontra. Perhatikan elemen-elemen yang menjadi titik kelebihan dan kelemahan. Apabila gabungan keduanya membangun sinergi dengan energi positif, silakan dicoba.

Namun tetap kenali titik-titik yang bisa mengganggu kesuksesan. Manajemen risiko direncanakan dari awal, sehingga ketika kelemahan menjadi fakta yang perlu solusi, ada jawabannya.