Share  

Siasatbisnis

Model Bisnis Berlangganan Boks

Oleh : Jennie M. Xue — Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis, berbasis di California
  Jumat, 16 Juni 2017    22:05 WIB

Salah satu bentuk model bisnis teranyar di Amerika Serikat (AS) adalah subscription box alias berlangganan boks. Seperti apa cara kerjanya? Ada yang mingguan, bulanan, dan per kuartal. Konsumen memilih frekuensi dan membayar biaya berlangganan dengan kartu kredit.

Model bisnis ini sangat menarik, mengingat pembayaran dibayar di muka sehingga cashflow terjaga, dan termasuk low-tech, alias padat karya. Website hanya digunakan sebagai sign-up place dan pemasaran dapat dilakukan dengan gencar di media sosial. Jadi, kapital awal termasuk minimal.

Salah satu yang tertua adalah BirchBox.com. Ini adalah boks berlangganan kosmetika, parfum, dan perawatan kulit seharga US$ 10 per bulan. Kompetitor serupa Ipsy.com yang didirikan oleh YouTube star Michelle Phan, dalam sekejap menggeser posisi BirchBox dengan lebih dari satu juta pelanggan.

Bisa dihitung omzet bulan yang hampir pasti diterima Ipsy, yakni sebesar US$ 10 juta. Tentu dengan asumsi churning rate (angka pelangganan yang menghentikan langganan) optimal, yaitu sekitar 5% hingga 10%. Bayangkan, apabila sample-sample kosmetika mungil didapat dengan bantuan sponsor, product costs hampir nihil.

ShoeDazzle.com, yang dulu dimiliki oleh Kim Kardashian, kini menawarkan paket berlangganan senilai US$ 40 per bulan untuk produk-produk sepatu perempuan trendi mereka. Sangat menarik, mengingat sepatu termasuk kebutuhan yang cukup pribadi dan sangat ditentukan oleh selera dan ukuran kaki.

Di Indonesia, penulis belum melihat model bisnis dotcom seperti ini. Mungkinkah ditiru? Tentu bisa. Bahkan mempunyai kans yang sangat bagus, mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia.

Namun pasar yang dibidik adalah mereka yang punya uang lebih untuk berlangganan atas dasar kuriositas. Jadi, produk yang dipilih sangat menentukan keberhasilan. Misalnya, para pengguna produk-produk organik atau pehobi kopi luks.

Selain itu, ada beberapa strategi yang perlu diperhatikan. Satu, pilihlah produk-produk yang habis dipakai, dipakai berulang, sulit dicari, produk baru yang perlu dicoba, hadiah berulang seperti untuk anak-anak atau kakek-nenek, produk eksotis tren dunia, atau produk hobi koleksi.

Di AS, para aficionado teh dan kopi, misalnya berlangganan boks yang memanjakan hobi mereka. Perempuan karier yang tidak memiliki banyak waktu, tentu ingin mencoba berbagai kosmetika baru. Maka, jadilah mereka berlangganan boks kosmetika.

Dua, price point beragam, tergantung konten dan frekuensi. Biaya pengiriman termasuk, sehingga konsumen tidak merasa terberatkan.

Di pasar AS, harga yang disukai adalah sekitar US$ 10 hingga US$ 30 per bulan. Ada juga yang lebih tinggi, seperti boks minuman anggur (wine) dan produk-produk koleksi yang mencapai US$ 100 per bulan.

Tiga, manajemen model bisnis boks berlangganan ini bisa menggunakan Cratejoy.com, Chargify.com atau Subbly.com. Atau bisa juga subscription plugin umum untuk Wordpress.

SaaS (software as a service) tersebut sangat membantu dari proses pencatatan anggota baru hingga recordkeeping delivery dan omzet. Semakin lengkap pencatatan, semakin baik untuk memprediksi terjadinya churn rate terhadap produk.

Empat, shipping dan delivery boks berlangganan bisa di-outsource dengan mudah di era transportasi online dengan Go-Jek dan Grab ini. Namun perlu diingat, terkait packing perlu mengandalkan tenaga kerja yang teliti, cermat, dan cepat.

Mengisi 100 boks mungkin mudah. Namun ketika jumlah mencapai 100.000, mengisinya dalam beberapa hari saja tentu membutuhkan jumlah pekerja yang cukup banyak dan supervisi konten yang ketat.

Lima, energi yang dikeluarkan untuk hunting produk hampir setara antara 10 pelanggan maupun satu juta pelanggan. Dengan kata lain, sepanjang kerjasama telah memadai dengan para supplier produk, mestinya tidak ada masalah untuk fulfillment setiap bulan. Hunting produk bisa saja dalam bentuk sponsorship, sehingga profit margin perusahaan bisa semakin besar.

Akhir kata, model bisnis selalu berkembang. Pebisnis perlu menyesuaikan diri mereka dengan berbagai perkembangan terbaru. Sebagaimana taksi konvensional banyak tersingkir oleh Uber dan hotel tersingkir oleh AirBnB, produk-produk yang menjual ritel juga mulai terpengaruh oleh produk-produk subscription box.

Sementara terkait iklim Indonesia, transportasi ojek aplikasi dan padat karya pengisian boks sangat mendukung model bisnis ini. Akankah ada unicorn Indonesia kedua dengan model ini? Penulis ingin mendengarnya, apabila Anda siap memulai dengan model bisnis seperti ini.