Share  

Siasatbisnis

Serbuan Murah Daiso dan Miniso

Oleh : Jennie M. Xue — Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis, berbasis di California
  Jumat, 16 Juni 2017    22:06 WIB

Bagi para penggemar produk-produk unik untuk keperluan sehari-hari dengan harga terjangkau, pasti Daiso dan Miniso yang dikejar. Produk-produk yang dijual hanya seharga puluhan ribu rupiah saja, bahkan mayoritas hanya Rp 20.000-an hingga Rp 50.000-an.

Daiso telah cukup lama hadir di Indonesia, tepatnya sejak tahun 2004 silam. Sedangkan Miniso hadir kemudian. Saat ini, ada 14 toko Daiso di Jakarta, Bandung, Surabaya dan tiga toko Miniso di Jakarta.

Total jumlah toko Daiso di Jepang ada sekitar 2.800. Di luar Jepang, sebanyak 860 toko yang tersebar di 26 negara. Didirikan di tahun 1972 sebagai Yaho Shoten oleh Chief Executive Officer (CEO) Hirotake Yano, saat itu model bisnis yang dipakai adalah street vendor dengan harga seragam, yakni 100.

Lima tahun kemudian bisnis dibentuk sebagai perseroan terbatas Daiso Industries. Kini omzet Daiso per tahun mencapai sekitar 376,3 miliar.

Dalam satu hari, sekitar 100 kontainer produk-produk Daiso dikirim oleh supplier. Ini mencakup 1% kargo impor di Jepang. Luar biasa, bukan?

CEO Yano dikenal dengan fleksibilitas yang mumpuni. Ia mengikuti perkembangan zaman dengan kerendahan hati trial and error.

Walaupun model bisnis awalnya adalah "semua produk 100" tampaknya satu harga sudah hampir mustahil. Kini, Daiso menjual produk dengan berbagai harga, sepanjang masih dalam kategori diskon alias harga murah meriah.

Salah satu kebesaran pikiran Yano yang patut diteladani adalah filosofinya. Ia tidak berasumsi bahwa growth akan terjadi dengan sendirinya. Pertumbuhan hanya akan terjadi di abad 21 ini, dengan know-how yang terus-menerus diasah berdasarkan pengalaman setiap hari.

Salah satu kompetitor Daiso yang sudah mulai diperhitungkan adalah Miniso. Miniso didirikan oleh Miyake Junya dan Ye Guofu pada tahun 2013. Miyake Junya sendiri pernah bekerja sebagai desainer kontrak untuk berbagai rumah fesyen international.

Ia adalah lulusan dari Bunka Fashion College, sebagaimana Kenzo Takada. Junya mendesain setiap produk Miniso, yang menjadi ciri khasnya. Ye Guofu adalah entrepreneur muda asal Tiongkok (China Mainland) yang mampu mengenali produk-produk pilihan murah meriah dengan desain berkelas nan simpel (simplicity) dan kembali ke alam (back to nature). Filosofi simple, natural and quality, menjadi tulang punggung setiap desain dan aktivitas bisnis.

Yang luar biasa dari Miniso adalah produk-produknya yang tampak tidak murahan, namun seharga kaki lima. Ternyata animo dunia luar biasa, yang tampak dari pertumbuhan dalam tiga tahun yang mencapai 1.600 gerai ritel di seluruh dunia. Sekitar 1.000 gerai berada di tanah Tiongkok.

Bisa dimengerti omzet pada tahun 2015 mencapai CNY 5 miliar dan di tahun 2016 mencapai CNY 10 miliar. Saat ini, growth per bulan mencapai 80 sampai 100 gerai. Angka luar biasa.

Patut diteladani bagaimana tim desain Miniso berhasil memadukan kualitas tinggi dengan harga super rendah. Branding mereka melirik pasar menengah atas, sehingga lokasi gerai ditempatkan di mal-mal berkelas.

Dengan menggalakkan gaya hidup "simpel dan kembali ke alam," diharapkan Miniso mampu mempengaruhi konsumen agar lebih memperhatikan ekosistem yang berkesinambungan. Yakni dengan carbon footprint minimal.

Filosofi Miniso yang ramah lingkungan ini mirip dengan filosofi Muji, yang juga telah memasuki pasar Indonesia. Namun dari segi harga, Miniso lebih membidik konsumen luas dengan penghasilan lebih terbatas. Muji dikenal dengan produk-produk dari bahan dasar organik, seperti pakaian dari katun organik dan kertas dari recycled material.

Kabar terakhir, Miniso merambah Afrika dengan menembus pasar Mauritius, yang merupakan negara pulau di sebelah timur Afrika seluas 2.040 kilometer persegi (km). Negara ini sangat mengandalkan impor dengan konsumsi cukup tinggi. Sejak turisme semakin meningkat, ekonomi lokal semakin membaik. Namun tingkat inflasi melampaui tingkat pendapatan, sehingga produk-produk murah semakin dibidik.

Discount store merupakan model bisnis yang sangat sesuai dengan era global yang semakin tidak menentu. Up and down tanpa kabar adalah normal. Resesi datang dan pergi bergelombang. Semakin besar cash yang dapat ditabung oleh konsumen, tampaknya semakin digemari.

Uniknya, para konsumen discount store bukan berarti orang miskin. Di Amerika Serikat, omzet terbesar per square footage adalah gerai diskon berbasis di kota-kota mewah, seperti Beverly Hills.

Tampaknya, terlepas dari kondisi cashflow konsumen, gerai diskon akan selalu digemari. Di kala booming atau masa resesi.