Share  

Wakeupcall

Objektif dalam Bertransaksi

Oleh : Satrio Utomo — Pengamat Pasar Modal
  Senin, 07 Agustus 2017    18:14 WIB

Meski ada bom di Kampung Melayu, bursa saham masih terus menunjukkan ketahanannya. IHSG bergerak naik 13,38 poin (naik 0,24%). IHSG ditutup pada level 5.716,82, sedikit di atas resisten pertama 5.705. Meski tipis, kenaikan IHSG kemarin mengakhiri tren turun jangka pendek yang sedang berlangsung.

Sebuah aksi teror, secara teori memang memiliki sentimen negatif. Akan tetapi, tidak untuk kali ini. Setidaknya keberadaan bom di Kampung Melayu malah memunculkan tren naik jangka pendek pada IHSG. Harga saham malah naik (secara rata-rata).

Ini menunjukkan aktivitas ekonomi di negeri kita ini sudah tidak terpengaruh aksi teror yang terjadi. Pelaku pasar seringkali melihat dengan meledaknya sebuah bom, aparat bakal meningkatkan kewaspadaan, sehingga memperkecil terjadinya serangan bom di tempat lain pada waktu dekat. Pelaku pasar percaya pemerintah masih mampu menjaga keamananan, sehingga mereka berani mengambil posisi beli ketika teroris beraksi. Kalau tujuan pelaku terorisme adalah mengganggu aktivitas ekonomi, mereka sudah gagal.

Tapi, arus informasi menjadikan sulit bersikap objektif. Objektivitas dalam bertransaksi belakangan ini adalah sebuah kemewahan. Bagi seseorang yang melakukan transaksi berdasarkan analisis teknikal, semua sebenarnya mudah bagi saya. Saya tinggal tutup koran, matikan televisi dan fokus pada chart yang saya miliki untuk bisa menghasilkan transaksi yang menguntungkan.

Akan tetapi, realitanya tidak seperti itu. Saya tetap harus mengikuti arus informasi karena saya tetap harus menulis di blog, berinteraksi dengan klien, melayani pertanyaan wartawan, sehingga bisa menceritakan perkembangan bursa saham kepada masyarakat luas.

Untuk bisa melakukan semua itu, saya harus tetap bisa objektif dan netral, dalam melihat semua permasalahan. Padahal, sosmed, berita online, televisi, semua terasa penuh dengan kebencian, seakan-akan Indonesia sudah siap untuk perang, besok.

Di tengah usaha tetap objektif, saya terdampar pada rekaman acara Rossi Spesial, yang berisi wawancara Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosianna Silalahi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya.

Pertama, Jokowi terlihat tetap tenang dan percaya diri. Beberapa kali Rossi berusaha memancing agar Jokowi mengeluarkan pernyataan yang memperlihatkan keberpihakannya, tapi Jokowi benar-benar tidak bergeming. Jokowi tidak memberi komentar yang bisa memperkeruh suasana.

Jokowi juga mengatakan, bila masyarakat terus saling menjelekkan satu sama lain, maka akan terjebak ke dalam hal-hal yang tidak produktif. Padahal, yang diperlukan saat ini adalah sebuah daya saing, etos kerja, dan produktivitas yang tinggi dalam membangun negeri.

Kedua, mengenai dukungan Jokowi terhadap supremasi di bidang hukum. Jokowi secara tegas menyatakan dia tidak akan ikut campur dalam proses hukum yang sedang berlangsung terhadap Basuki Tjahaja Purnama. Jokowi tetap menekankan kemandirian eksekutif, yudikatif dan legislatif.

Ketiga, saya masih melihat Jokowi terus berusaha blusukan, turun ke bawah, meskipun saat ini pendekatannya sedikit berbeda. Dulu Jokowi blusukan kesana-kemari dengan seenaknya, saat ini acara sesi tanya jawabnya dibuat lebih mirip klompencapir jaman Pak Harto dulu. Dengan hadiah sepeda tentu saja, yang menjadikan acara menjadi lebih hangat.

Lalu, apa hubungan obyektivitas dengan IHSG? Saat ini IHSG sedang berada di resisten dari tren jangka menengah. Saya melihat tren naik jangka menengah IHSG memiliki resisten kuat di 5.690. Kalaupun bisa lewat, IHSG masih memiliki resisten kuat di kisaran 5.7505.850.

Ketika IHSG berada di resisten, terkadang lebih mudah bagi diri saya untuk menerima berita jelek, dibandingkan dengan berita bagus. Harap maklum, ketika harga berada di resisten, yang diharapkan muncul adalah sinyal reversal dan tren turun yang baru. Ketika sedang berada di resisten, keinginan munculnya koreksi sangat besar, sehingga sulit bagi kita jadi objektif.

Apa yang terlihat belakangan, seakan merupakan perwujudan dari semua itu. Ketika S&P memberikan investment grade, yang terlihat bukan IHSG yang naik atau dana asing yang mengalir deras, tapi malah profit taking investor lokal yang kemudian menekan IHSG sampai kembali di bawah resisten 5.690.

Untuk posisi di pasar reguler, setelah pemberian investment grade, pemodal asing memang masih sempat berada di posisi net buy pada Senin dan Selasa lalu. Tapi, aksi wait and see yang terlihat dari net sell yang tidak terlalu besar di hari Rabu dan Jumat, membuat kita sebaiknya waspada. Jangan-jangan ini memang waktunya konsolidasi, atau akhir dari tren naik jangka menengah.

Tapi, sinyal positif yang terjadi pada hari Jumat kemarin memang sedikit melegakan. Semoga ini bukan konsolidasi. Tapi tetap saja, karena baru muncul satu hari, kita sebaiknya masih tetap waspada.

Karena itu, trader harus mampu trend following. Trader biasanya menggunakan analisis teknikal, karena lebih bisa menjelaskan pergerakan harga jangka pendek. Karena tujuan trader mencari profit, maka trader seringkali harus bisa mengesampingkan berita-berita yang ada. Trader harus mampu trend following, mengikuti arah pergerakan harga ke manapun arahnya. Strategi dasarnya sederhana, beli ketika mau naik, jual ketika mau turun, apapun berita yang beredar. Dengan kata lain, trader harus bisa memilih berita.

Nah, Ramadan identik dengan penurunan volume transaksi saham. Tapi kalau ada yang bilang Ramadan identik dengan koreksi, sepertinya enggak. Kalau ada yang ketakutan, itu karena crash market 2008 lalu terjadi di sekitar Lebaran. Kita lihat Ramadan kali ini. Semoga saja tren naik IHSG masih berlanjut.

Jadi, happy trading. Semoga berkah!