Share  

Siasatbisnis

Rahasia Delapan Juta Produk Wayfair

Oleh : Jennie M. Xue — Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis, berbasis di California
  Rabu, 23 Agustus 2017    09:00 WIB

Salah satu peritel dunia maya paling sukses adalah Wayfair.com. Nama ini mungkin kurang terdengar di Indonesia, bahkan di Amerika Serikat (AS). Namun data korporat ini mencengangkan.

Wayfair.com telah menemukan kunci hacking the growth hingga menawarkan lebih dari 8 juta produk furnitur dan alat-alat rumah tangga melalui toko online sederhana. Bagaimana logistiknya? Seberapa besar gudang?

Mari kita simak sejarahnya. Steve Conine dan Niraj Shah adalah dua siswa SMA yang mengikuti program musim panas di Cornell University. Setelah lulus SMA, mereka sama-sama studi engineering. Mereka tinggal di asrama mahasiswa yang sama.

Mereka sama-sama mengambil kelas kewirausahaan dan berniat memulai bisnis yang berhubungan dengan teknologi. Di tahun 2002, dengan bujet minim, mereka memulai bisnis di kamar tidur Steve.

Mereka mempelajari algoritma internet dan mengenali kebutuhan pasar cukup besar untuk rak stereo. Dalam waktu singkat, mereka membangun satu website penjualan rak, lemari dan dekorasi interior rumah. Dari satu website, bisnis mereka tumbuh menjadi 250 website.

Kesulitan mengelola 250 situs, mereka menggabungkan semua situs ke dalam satu situs mega Wayfair.com di tahun 2011. Setahun kemudian, mereka berhasil mendapatkan omzet US$ 600 juta.

Angka ini segera dilampaui dalam sekejap. Di tahun 2015, Wayfair mengantongi omzet bersih US$ 2,25 miliar. Di akhir Maret 2017, omzet bersih US$ 3,59 miliar.

Bagaimana bisa tumbuh sangat cepat? Kuncinya, menampung 10.000 supplier yang mensuplai 8 juta produk bagi lima merek Wayfair, yaitu AllModern, Birch Lane, DwellStudio serta Joss & Main. Delapan juta produk tersebut ditangani oleh 5.700 pegawai di kantor pusat di Boston, Massachusetts. Produk-produk mereka dikirim ke AS dan Eropa.

Mungkin Anda kembali bertanya, bagaimana mengatur stok yang luar biasa banyak? Dengan dropshipping, yakni suatu model bisnis, si peritel hanya menjual produk dengan harga ritel. Sedangkan logistik, penyimpanan dan pengiriman dilakukan supplier. Jadi, Wayfair hanya menjual dengan berbagai cara, menerima order, menservis pelanggan dan mengirim order ke supplier.

Model bisnis ini pernah dipakai Zappos.com yang didirikan Tony Hsieh. penulis buku best seller Delivering Happiness. Di awal pendirian Amazon, gurita raksasa ini juga menggunakan dropshipping demi menghemat biaya penyimpanan.

Kelebihan model bisnis ini, jumlah produk fantastis tanpa khawatir akan penyimpanan, logistik dan pengiriman. Juga hemat biaya operasional karena kegiatan berkisar di pemasaran dan outreach pada branding.

Namun, kontra bisnis ini cukup jelas: monitor pengiriman dan kontrol supplier terbatas. Bila ada kesalahan pengiriman, maka customer akan komplain ke peritel, bukan ke supplier.

Peritel juga tidak dapat mengecek kualitas produk. Jadi, hubungan erat peritel dan supplier harus diperhatikan agar timbul respek dan saling pengertian, sukses kedua pihak bertumpu pada kerjasama ini.Ini penting agar solusi segera diaplikasikan ketika masalah terjadi. Dengan 10.000 supplier, bisa dibayangkan rumitnya hubungan tersebut harus dijaga.

Penggunaan model bisnis dropshipping untuk e-commerce salah satu paling menggiurkan karena pertumbuhan meroket beberapa bulan. Model bisnis marketplace sangat mengandalkan word of mouth dan kepercayaan supplier akan platform yang ditawarkan peritel. Ini perlu proses dan waktu yang cukup lama.

Model dropshipping menggurita dalam sekejap, sepanjang aktivitas pemasaran dijalankan dengan konsisten. Sepanjang supplier dan produk berstandar tinggi, model bisnis ini mempercepat ekspansi. Namun, peritel perlu siap dengan biaya pemasaran tinggi dan membangun hubungan baik dengan supplier.