Share  

Turbulensi politik

Oleh : Mesti Sinaga
Kamis, 16 Februari 2017
00:57 WIB
Turbulensi politik

Tahun  2017 adalah tahun turbulensi politik. Setidaknya, hingga  akhir semester pertama tahun ini suhu politik akan membara, baik di dalam maupun luar negeri.

Di luar negeri, Prancis berpotensi jadi episentrum baru. Munculnya Marine Le Pen sebagai salah satu kandidat kuat dalam pemilihan presiden Prancis April 2017, menebar ketidakpastian baru. Le Pen menakutkan bagi banyak orang lantaran dia mirip Donald Trump. Dalam kampanyenya, perempuan 49 tahun ini menjanjikan proteksionisme, anti imigran, dan yang bikin heboh, dia berjanji akan membawa Prancis keluar dari Uni Eropa (Frexit).

Sekarang saja, dampak Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) belum hilang. Jika ditambah lagi dengan Frexit, bisa memicu gelombang krisis baru. Pertumbuhan ekonomi akan melambat dan permintaan komoditas akan turun. Dampaknya akan menyebar ke berbagai negara lain, termasuk Indonesia.

Akankah kemenangan Brexit dalam jajak pendapat di Inggris dan terpilihnya Trump di AS akan berlanjut dengan kemenangan Le Pen di Prancis? Atau justru dampak buruk Brexit dan Trump membuat warga  Prancis menjauhi Le Pen? Waktu yang akan menjawabnya.

Gejolak politik yang tak kalah panas juga datang dari dalam negeri, khususnya dari pilkada Jakarta. Siang ini, proses pencoblosan akan berakhir dan kita bisa memantau hasilnya melalui hitung cepat oleh berbagai lembaga survei.

Akankah hiruk pikuk pilkada DKI yang panas dan sering kali meresahkan ini berakhir hari ini juga? Sepertinya tidak. Hasil survei berbagai lembaga menunjukkan, pilkada DKI akan berlangsung dua putaran. Itu artinya, ribut-ribut pilkada Jakarta bakal berlanjut, setidaknya hingga pencoblosan tahap dua April 2017.  Bukan tak mungkin, politik bakal  lebih panas di putaran kedua.

Beberapa lembaga asing sejak tahun lalu sudah menyoroti panasnya politik Indonesia yang diwarnai isu SARA, sebagai risiko berinvestasi di Indonesia tahun ini. Padahal, di tengah seretnya ekspor, rendahnya harga komoditas, dan minimnya penerimaan pajak, ekonomi kita sungguh butuh suntikan investasi agar bisa bergerak dan tumbuh.

Namun, pilkada pasti berlalu. Semoga, hiruk pikuk politik pun reda. Kuncinya, siapa pun yang kelak menjadi gubernur DKI mampu merangkul dan merekatkan kembali seluruh warga Jakarta. Ini jelas tak mudah. Hanya kedewasaan, sportivitas dan menerima keragaman yang bisa membuat Indonesia keluar dengan selamat dari turbulensi ini.