CEO's Talk

"Karyawan adalah modal"

Oleh : Elisa Lumbantoruan — CEO PT ISS Indonesia
  Senin, 23 November 2015  12:39 WIB

Dua bulan lalu PT ISS Indonesia punya Chief Executive Officer (CEO) baru: Elisa Lumbantoruan. Salah satu program kerjanya, mengubah persepsi masyarakat terhadap perusahaan ini. Tentu, ia ingin mengembangkan bisnis perusahaan juga. Elisa menceritakannya kepada jurnalis Tabloid KONTAN Aziz Husaini dan Agung Jatmiko.

Setelah diberhentikan dari jajaran manajemen PT Garuda Indonesia Tbk, tadinya saya berencana untuk istirahat dulu. Saya ingin melalukan hal-hal yang saya suka seperti melakoni hobi bermain golf.

Tapi ternyata, rencana itu sulit untuk dijalankan. Ada saja yang menawarkan posisi direksi. Salah satunya datang dari ISS Indonesia.

Mereka mendekati saya sampai dua kali. Pada penawaran kedua lah saya memutuskan untuk bergabung, setelah bertemu langsung dengan CEO ISS global.

Cuma, sebelum memutuskan bergabung, saya mencari dulu informasi tentang ISS Indonesia. Maklum, saya tidak punya pengetahuan yang cukup tentang perusahaan ini, mulai dari bisnis yang digarap hingga bagaimana mereka bekerja.

Saya mengumpulkan informasi dari situs perusahaan. Termasuk melakukan survei dan merasakan sendiri layanan yang diberikan ISS Indonesia.

Contoh, saya mengunjungi Toserba Yogya yang layanan parkir dan jasa kebersihannya ditangani ISS Indonesia.

Layanan mereka sangat beda. Pegawainya selalu menyapa, memberi tahu tempat parkir yang kosong, toiletnya bersih dan kering, dan tidak mau diberikan tip.

Melihat layanannya yang berbeda inilah, saya memutuskan untuk bergabung dengan ISS Indonesia dan berjanji membawa perusahaan ini lebih baik dan lebih besar lagi.

ISS Indonesia merupakan perusahaan alihdaya atau outsourcing. Kami memberikan jasa layanan kebersihan, parking, keamanan, dan katering.

Ada juga layanan pendukung pekerjaan, seperti resepsionis, supir, dan call center. Termasuk jasa properti, di antaranya pengelolaan gedung dan pengendalian hama atau pest.

Dari sisi tenaga kerja, ISS Indonesia punya ukuran yang besar. Kami memiliki 55.000 karyawan hingga 56.000 karyawan.

Setiap bulan kami melakukan wawancara kerja terhadap 5.000 orang hingga 6.000 orang, tapi yang diterima cuma 1.200 orang sampai 1.300 orang.

Saya bergabung dengan ISS Indonesia sejak dua bulan lalu. Tantangan terbesar perusahaan ini adalah: mengubah persepsi masyarakat terhadap ISS Indonesia.

Maklum, persepsi masyarakat terhadap kami cenderung negatif. Rata-rata karyawan kami sebelumnya adalah pengangguran dengan tingkat pendidikan yang kurang baik.

Masyarakat menganggap ISS Indonesia sebagai perusahaan penyedia layanan pembantu rumahtangga, padahal bisnis kami berbeda. Kami memberikan layanan yang memengaruhi gaya hidup orang lain dan membantu kehidupan menjadi lebih baik.

Contoh, di mal. Banyak pengunjung yang buang sampah sembarangan, tapi setiap saat mal selalu bersih dan rapi. Kami memberikan nilai tambah kepada klien dan pengunjung sehingga mereka nyaman.

Tantangan lainnya, membesarkan ISS Indonesia agar mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.

Dari segi karyawan, perusahaan ini memang tergolong besar, tapi kami menghadapi turn over pegawai 30% hingga 40% per tahun. Rata-rata karyawan bertahan dua tahun–tiga tahun saja.

Karena itu, saya perlu memperluas jangkauan bisnis ISS Indonesia, dengan cara mencari bisnis-bisnis baru yang membuka lapangan kerja yang lebih baik.

Open policy

Dalam menjalankan perusahaan ini, saya berprinsip tidak mengeksploitasi karyawan. Karyawan tidak pantas dieksploitasi karena mereka bukan alat produksi.

Bagi saya, mereka adalah modal. Jika menjadikan karyawan sebagai alat produksi, mereka akan dianggap sebagai sumber biaya (cost).

Perusahaan akan selalu berusaha menekan biaya yang muncul dengan langkah efisiensi. Biasanya perusahaan melakukan efisiensi dengan pengurangan karyawan atau tidak memenuhi hak-hak normatif mereka.

Berbeda kalau kita menganggap karyawan sebagai modal. Dalam sistem ini, karyawan perlu diperbarui terus menerus. Istilahnya: investasi ulang.

Karyawan kami berikan pelatihan berkelanjutan. Kami beri mereka pendidikan tentang kemampuan, kecakapan, dan perilaku.

Dengan begitu, mereka bakal tampil sebagai karyawan yang profesional dengan kinerja baik dan penuh percaya diri.

Saat bekerja, karyawan selalu bekerja dengan arahan yang jelas. Ada standard operational procedure (SOP) yang dijalankan dalam masing-masing pekerjaan. Setiap hari karyawan akan mendapatkan arahan dan evaluasi dari atasannya.

Nah, ISS Indonesia memiliki tiga layer dalam bekerja. Di atas karyawan ada supervisor.

Sebagai pengawas supervisor ada yang namanya team leader. Rasionya, satu kelompok ada 12 team leader hingga 15 team leader. Ada juga service manager dan field manager.

Saya juga berusaha menerapkan kepatuhan (compliance) terhadap aturan yang berlaku dan memenuhi hak-hak karyawan.

Setiap karyawan selalu mendapat gaji di atas upah minimum regional (UMR). Perusahaan memenuhi hak normatif mereka dengan membayarkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Jadi, semua hak-hak karyawan kami yang penuhi. Karena itu, dalam negosiasi dengan klien, kami selalu minta upah per orang dua kali di atas UMR.

Kebijakan ini memang membuat harga kami lebih mahal ketimbang kompetitor. Namun, dengan kualitas layanan yang diberikan oleh karyawan kami, klien pasti merasa membayar kami dengan pantas.

Dalam kepemimpinan, saya menerapkan sistem open policy. Itu sebabnya, karyawan bisa mengajukan kritik ke manajemen secara terbuka.

Setiap kritik harus direspon secara positif. Tujuannya, untuk membangun perusahaan lebih baik lagi.

Saya juga menerapkan sistem transparansi dan fairness. Sekarang sudah bukan zamannya lagi pemimpin bertindak sesuka hati lantaran dia memiliki kekuasaan.

Cara ini tidak akan membuat perusahaan tumbuh besar. Justru transparansi mendorong leadership yang kuat.

Alhasil, semua kebijakan dan keputusan bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi, untuk menjalankan hal ini perlu ada governance. Tanpa itu transparansi dan fairness tidak akan bisa terwujud.

Salah satu bentuk governance yang akan saya lakukan adalah membentuk komite sumber daya manusia (SDM).

Komite ini yang nantinya membuat penilaian terhadap karyawan, dalam hal promosi, mutasi, hingga pemecatan. Kelak komite SDM terdiri dari beberapa orang yang merupakan atasan langsung si karyawan.

Komite ini bersifat ad hock. Jadi, mereka nanti yang membuat keputusan. Saya tidak bisa membuat keputusan mengenai nasib karyawan.

Dengan keberadaan komite SDM, maka semua akan lebih transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Soalnya, dasar pengambilan keputusan sudah melalui beberapa pertimbangan.

Incar Industri

Untuk pengembangan bisnis, sebagai perusahaan jasa, ISS Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih besar lagi. Kami punya keunggulan dari sisi karyawan yang cukup besar.

Kami bisa dengan leluasa memenuhi kebutuhan perusahaan yang membutuhkan tenaga-tenaga karyawan ISS.

Ke depan saya bakal menerapkan strategi pertumbuhan organik dan mengembangkan jasa-jasa lain yang sifatnya padat karya.

Konsumen yang menginginkan jasa data entry atau agen call center yang jumlahnya ribuan orang bisa segera kami siapkan. Saat ini layanan tersebut belum banyak.

Salah satu pengembangan bisnis yang akan kami lakukan adalah dengan mengincar klien sektor industri.

Potensi pelanggan di sektor industri sangat besar. Sebab, banyak perusahaan yang menghindari pekerjaan yang dianggap low skilled itu.

Sektor penerbangan, contohnya. Kami baru saja mendapatkan kontrak kerjasama dengan Garuda Indonesia dan Citilink. Kami bertugas untuk membersihkan eksterior maupun interior pesawat.

Kontrak dengan Garuda Indonesia tiga tahun dan Cilitilink satu tahun. Pekerjaan bebersih pesawat juga datang dari Sriwijaya Air.

Selain sektor penerbangan, ISS Indonesia juga mengantongi kontrak dengan sektor perhotelan. Kami kini menangani POP! Hotel dan jaringan.

ISS Indonesia juga sudah bermitra dengan jaringan Rumahsakit (RS) Pondok Indah dan RS Siloam dalam jasa keamanan dan kebersihan.

Dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Jawa Timur, kami mendapat kontrak jasa kebersihan. Lalu, juga ada kontrak jasa kebersihan dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk area Banjarmasin.

Ujicoba penyediaan jasa sales promotion girl (SPG) untuk salah satu perusahaan rokok.

Semua ini tentu membutuhkan kemampuan. Karena itu, saya akan mengedepankan kelas-kelas pelatihan, agar karyawan bisa melakukan pekerjaan dengan baik.

Dengan perluasan bisnis ini, tentu juga akan membuat banyak tenaga kerja yang diserap dan bisnis perusahaan kami tetap tumbuh.