Kopi Pagi

"Sadari kalau kita tak tahu"

Oleh : Mochtar Riady — Pendiri Lippo Group
  Senin, 25 Januari 2016  13:18 WIB

Dalam setiap episode sejarah kehidupan saya, sejumlah perubahan zaman dan tantangan saya hadapi. Perubahan zaman yang juga menuntut saya untuk terus berpikir.

Pada episode 20 tahun pertama kehidupan saya, yaitu masa anak-anak dan remaja, merupakan masa yang penuh duka dan derita.

Saya mengalami empat peperangan, yaitu perang antarpanglima perang (warlord) di Tiongkok, hingga perang revolusi kemerdekaan Indonesia.

Perang itu sungguh kejam, membawa perpecahan, kehancuran, kelaparan, dan kematian. Karena itu, saya tidak ingin bertengkar hanya karena berebut kepentingan dan kedudukan.

Menurut saya, cinta kasih, toleransi, dan komunikasi adalah dasar untuk mencapai kedamaian, keberhasilan, dan kebahagiaan.

Melompat ke episode 20 tahun ketiga, saya mengalami era globalisasi ekonomi. Sementara episode 20 tahun keempat, saya mengalami masa peralihan pusat ekonomi dunia dari cekungan di sekitar Samudra Atlantik ke daratan Samudra Pasifik.


Menghadapi pancaroba dunia dan Indonesia, sering membuat saya merasa bimbang dan gamang. Seolah-olah masa depan suram dan tidak menentu.

Namun, saya mengambil pelajaran, kondisi terpuruk belum tentu buruk. Di mana ada krisis, di situ ada peluang. Saya pun optimistis dan berpikir positif.

Sejarah Lippo Group juga demikian. Beberapa puluh tahun ini, Lippo Group mengalami banyak tantangan.

Akan tetapi, dengan kerja tekun dan rukun, kerja keras dan cerdas, bersyukurlah kini Lippo Group telah mantap. Sebagian bisnis Lippo Group menjadi terbesar di bidangnya.

Bisnis utama Lippo Group saat ini berada di Indonesia. Sejak tahun 1991 hampir semua kegiatan bisnis sudah saya serahkan kepada anak saya, James Riady. Karena itu, kalau bicara bisnis kami di Indonesia, tentu tak bisa lepas dari peranan James.

Tahun 1991 merupakan tahun titik tolak kegiatan bisnis Lippo Group. Sejak berpisah dengan Liem Sioe Liong, saya berkonsentrasi pada bisnis sendiri.

Bisnis utama kami yang semula di bidang keuangan kini beralih ke real estat, pendidikan, rumah sakit, supermarket, supermall, telekomunikasi, dan lainnya.

Usaha tersebut semua kami garap dari titik nol pada waktu hampir bersamaan. Tentu saja kami mengalami banyak tantangan dan rintangan.

Saya ingat ajaran Laozi, "Betapa besarnya pohon, pasti dimulai dari kecil. Berapa jauhnya perjalanan, dimulai dari langkah pertama".

Nah, ketika pertama kali saya diundang sebagai pembicara oleh Nation University of Singapore (NUS), ada seorang peserta bertanya, "Apa kiat keberhasilan Lippo Group hingga lintas negara?"

Saya jawab dengan singkat, kiatnya adalah "Saya tahu bahwa saya tidak tahu".

Hanya orang yang sadar keterbatasan dirinya akan berusaha dengan segala upaya mencari orang yang tahu melaksanakan tugas yang ingin dicapainya. Itulah kekuatan orang yang sadar tidak tahu!

Contoh konkretnya, ketika saya ingin terjun ke bidang usaha supermarket, saya sadar bahwa saya tidak mengerti seluk-beluk bisnis ini.

Dalam hal ini, jangan berpura-pura tahu. Akibatnya pasti akan mengalami kegagalan. Kita harus mencari ahlinya untuk mengelola usaha tersebut.

Karena itu, saya mengundang seorang mantan CEO supermarket untuk memimpin bisnis tersebut. Lalu, supermarket kami berkembang pesat dan sukses. Jika Anda belum paham, kumpulkan dulu para ahlinya, baru beraksi.

*(Tulisan ini dicuplik dari buku "Manusia Ide" terbitan Kompas).